Fakta Ekonomi

IHSG Diprediksi Akan Berfluktuasi di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mengalami pergerakan yang tidak stabil pada Kamis (11/6/2026) akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. IHSG dibuka dengan penurunan kecil di...

S
Stevani Nila Wardana
11 June 2026
11 pembaca
IHSG Diprediksi Akan Berfluktuasi di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Foto: Republika/Thoudy Badai

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Kamis, 11 Juni 2026, menunjukkan potensi pergerakan yang fluktuatif seiring dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. IHSG dibuka dengan penurunan sebesar 3,11 poin atau 0,05 persen, mencapai level 5.899,27. Sementara itu, indeks yang mencakup 45 saham unggulan, yaitu LQ45, mengalami sedikit kenaikan sebesar 0,83 poin atau 0,14 persen, berada di posisi 590,31.

Pengaruh Ketegangan di Timur Tengah

Menurut Liza Camelia Suryanata, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas, sentimen pasar saat ini masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Timur Tengah. "Sentimen pasar tetap didominasi perkembangan di Timur Tengah, setelah CENTCOM mengumumkan gelombang baru serangan terhadap Iran atas instruksi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump," ujarnya dalam analisis yang dilakukan di Jakarta.

Kekhawatiran Terhadap Pasokan Energi Global

Di sisi internasional, Trump kembali mengingatkan bahwa Iran akan "membayar harga" jika terus menunda kesepakatan damai. Iran pun menegaskan akan membalas setiap ancaman dan serangan yang diterimanya. Ketegangan yang telah berlangsung selama empat bulan ini semakin meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan energi global. Ketidakpastian tetap tinggi, terutama terkait dengan Selat Hormuz yang merupakan jalur utama bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, yang kini menjadi titik risiko utama bagi energi global.

Selain itu, Trump mengklaim bahwa AS telah menjalankan "misi rahasia" untuk membantu lebih dari 200 kapal komersial melewati Selat Hormuz dan mengalirkan lebih dari 100 juta barel minyak ke pasar global. Namun, klaim tersebut dibantah oleh Menteri Energi AS, Chris Wright, yang mengaku tidak mengetahui tentang operasi tersebut.

Artikel Terkait