Pergerakan harga emas atau logam mulia tetap berada di bawah Rp 3 juta per gram, seiring dengan menurunnya ketegangan konflik di Timur Tengah. Para analis memperkirakan bahwa harga emas dalam pekan depan akan berada di rentang Rp 2,5 juta hingga Rp 2,88 juta per gram.
Pada akhir perdagangan pekan ini, harga emas dunia tercatat mencapai 4.209 dolar AS per troy ons, sementara harga logam mulia ditutup pada posisi Rp 2,71 juta per gram.
Proyeksi Harga Emas dan Indeks Dolar
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa jika harga emas dunia mengalami penyesuaian, level support pertama akan berada di 4.058 dolar AS per troy ons, dengan harga logam mulia diperkirakan mencapai Rp 2,61 juta per gram. “Seandainya lanjut terkoreksi, level support kedua berada di 3.929 dolar AS per troy ons dan harga logam mulia sebesar Rp 2,5 juta per gram,” ujarnya.
Di sisi lain, jika harga emas dunia menguat, level resistance pertama diperkirakan berada di 4.394 dolar AS per troy ons, dengan harga logam mulia mencapai Rp 2,74 juta per gram. “Seandainya melanjutkan penguatan, level resistance kedua berada di 4.571 dolar AS per troy ons dan harga logam mulia di posisi Rp 2,88 juta per gram,” tambahnya.
Faktor Geopolitik dan Dampaknya
Ibrahim juga memproyeksikan bahwa indeks dolar AS dalam perdagangan pekan depan akan berada di level support 99,10 dan level resistance 100,70. Mengenai pergerakan harga minyak, ia memperkirakan akan mengalami penyesuaian dengan level support di 77,40 dolar AS per barel, sedangkan level resistance jika terjadi kenaikan berada di 94,60 dolar AS per barel.
Menurut Ibrahim, terdapat dua faktor utama yang memengaruhi fluktuasi harga berbagai komoditas, yaitu faktor geopolitik dan kebijakan bank sentral Amerika Serikat. “Jadi, hanya ada dua faktor yang memengaruhi pergerakan indeks dolar, minyak mentah, kemudian harga emas dan logam mulia,” jelasnya.
Mengenai isu geopolitik, pekan ini Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa kesepakatan damai antara Iran dijadwalkan akan ditandatangani pada hari Ahad. Salah satu poin dalam kesepakatan tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz setelah penandatanganan. Selain itu, terdapat rencana pencairan dana Iran yang sebelumnya dibekukan oleh AS sejak Revolusi Islam, serta isu terkait reaktor nuklir.
Namun, Ibrahim menekankan bahwa banyak pihak menganggap perjanjian tersebut berpotensi hanya menjadi kesepakatan di atas kertas. Masih ada kemungkinan munculnya perlawanan karena dalam perjanjian sebelumnya, penyelesaian konflik tidak hanya melibatkan hubungan AS dan Iran, tetapi juga Lebanon dan Hamas. “Saya melihat kemungkinan besar masih akan terjadi baku tembak antara Israel dan Lebanon. Ini yang sangat dikhawatirkan. Namun, indikasi perdamaian ini membuat harga minyak turun. Kalau harga minyak turun kemudian indeks dolar menguat, berarti harga emas mengalami kenaikan,” tuturnya.
Ibrahim menambahkan, jika proses perdamaian benar-benar terwujud, ada potensi bagi investor untuk mengalihkan investasinya dari dolar AS ke logam mulia. “Kalau benar-benar terjadi perdamaian antara AS dan Iran, kemudian Selat Hormuz dibuka, kemungkinan besar investor yang sebelumnya berinvestasi di dolar AS akan beralih ke logam mulia sebagai safe haven,” terangnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa harga emas dunia sempat mengalami penurunan akibat blokade Selat Hormuz yang menyebabkan kenaikan harga dolar dan minyak, yang pada gilirannya berdampak pada inflasi.