Fakta Ekonomi

IHSG Tertekan ke Angka 4.000-an, Masalah MSCI Masih Menghantui Investor

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada Jumat pagi, dipicu oleh kekhawatiran investor mengenai stabilitas pasar modal dan kebijakan suku bunga di AS.

S
Stevani Nila Wardana
30 October 2026
6 pembaca
Foto: Republika/Thoudy Badai
Foto: Republika/Thoudy Badai

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (30/10/2026) pagi dibuka dengan penurunan, di tengah kekhawatiran investor akan kredibilitas pasar modal domestik serta ketidakpastian mengenai kebijakan suku bunga yang akan diambil oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed. IHSG dibuka dengan penurunan sebesar 31,12 poin atau 0,61 persen, mencapai posisi 5.066,94. Tidak lama setelah itu, IHSG melanjutkan penurunan dan sempat menyentuh level 4.979,34.

Pengaruh Masalah MSCI terhadap Kepercayaan Investor

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, dalam analisisnya di Jakarta, menyatakan bahwa masalah terkait MSCI masih menjadi faktor yang mengganggu kepercayaan pelaku pasar dan investor. Tekanan ini sebelumnya tercermin dari penurunan IHSG yang mencapai 3,49 persen. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi juga mengalami peningkatan hingga 7,64 persen. Sentimen pasar keuangan domestik menunjukkan kekhawatiran akan potensi arus modal asing yang keluar, yang dapat memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah.

Peringatan Mengenai Pelemahan Rupiah

Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, sebelumnya mengingatkan bahwa rupiah dapat melemah hingga Rp 20.000–Rp 22.000 per dolar AS jika masalah terkait evaluasi MSCI tidak segera diatasi. “Pernyataan Hashim mengenai potensi pelemahan rupiah hingga Rp 22.000 per dolar AS mencerminkan besarnya risiko kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik, khususnya di tengah ketidakpastian status Indonesia dalam indeks MSCI,” ungkap Maximilianus. Meskipun Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif baik, para investor tetap waspada terhadap kemungkinan pelemahan lebih lanjut pada rupiah.

“Kami memperkirakan upaya BI untuk menjaga nilai rupiah akan tetap menjadi prioritas, dengan mengoptimalkan intervensi pasar dan instrumen moneter tanpa harus langsung menaikkan suku bunga acuan,” jelasnya. Maximilianus menambahkan bahwa efektivitas kebijakan tersebut sangat bergantung pada penyelesaian masalah transparansi dan tata kelola pasar modal untuk memulihkan kepercayaan investor asing. Oleh karena itu, risiko pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal, tetapi juga oleh kredibilitas reformasi pasar keuangan domestik.

Selain sentimen domestik, pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi di AS, terutama terkait dengan kenaikan inflasi yang dapat memengaruhi kebijakan moneter The Fed. Pilarmas mencatat bahwa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures atau PCE) di AS naik dari 3,4 persen menjadi 3,6 persen secara tahunan. Sementara itu, pertumbuhan belanja konsumen melambat dari 0,9 persen menjadi 0,5 persen. Kenaikan inflasi di tengah perlambatan belanja konsumen ini menambah ketidakpastian terhadap arah suku bunga di AS, yang berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

Dengan kombinasi sentimen domestik dan eksternal tersebut, Pilarmas memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan penurunan pada perdagangan Jumat. Berdasarkan analisis teknikal, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam rentang support 4.815 dan resistance 5.185.

Artikel Terkait