Jakarta - Menurut data dari Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), terjadi penurunan muka tanah rata-rata 0,5 meter per tahun di beberapa lokasi tanggul Lumpur Sidoarjo yang paling rentan. Di sepanjang tanggul, penurunan permukaan tanah berkisar antara 20 hingga 50 cm. Kurnia Cahya Febryanto SKom MKom, seorang mahasiswa program doktoral di Departemen Teknik Informatika ITS, menjelaskan bahwa risiko jebolnya tanggul semakin meningkat akibat penyempitan kapasitas aliran Kali Porong di Sidoarjo yang disebabkan oleh sedimentasi sungai. Saat ini, metode inspeksi yang digunakan terbatas dalam mendeteksi perubahan yang terjadi secara perlahan, sehingga kondisi tanggul yang sebenarnya bisa terlewat dari perhatian karena penipisan jarak bebas, muka air, dan prakiraan hujan lebat yang terlihat normal.
"Gabungan dari kondisi-kondisi tersebut membuatnya semakin berbahaya," ujarnya, seperti yang dikutip dari laman kampus.
Pengembangan Teknologi SIDA-AI
Menanggapi tantangan ini, Kurnia dan tim dari ITS mengembangkan teknologi Sidoarjo Disaster Assessment AI (SIDA-AI). Teknologi mitigasi bencana ini mengintegrasikan citra dari pesawat nirawak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) dan sensor Internet of Things (IoT), serta data prakiraan cuaca untuk menghasilkan pemantauan kondisi secara real-time.
Irfan Mirda ST MKom, pengembang perangkat keras SIDA-AI, menjelaskan bahwa alat ini terdiri dari dua lapisan. Lapisan pertama adalah lapisan persepsi yang berfungsi untuk mengolah data observasi guna mendeteksi berbagai kondisi fisik tanggul, seperti retakan, rembesan, dan tingkat saturasi berdasarkan citra UAV. Selain itu, lapisan ini juga mendeteksi sisa freeboard atau ruang aman yang tersisa dalam tanggul, yang dihitung menggunakan metode DEM differencing (Digital Elevation Model) dengan membandingkan data ketinggian permukaan tanah dari waktu ke waktu.
Sensor IoT digunakan untuk memantau permukaan air dan pendangkalan Kali Porong yang berada di dekat semburan lumpur panas. Lapisan kedua terdiri dari agentic AI, yang berfungsi menggabungkan data yang telah dikumpulkan menjadi gambaran menyeluruh. AI kemudian menganalisis gambaran ini untuk menentukan segmen tanggul mana yang paling berisiko. Menariknya, sistem ini tidak hanya mengumpulkan dan menggabungkan data, tetapi juga dapat memberikan rekomendasi tindakan, seperti segmen mana yang perlu diperkuat terlebih dahulu. Irfan menambahkan bahwa rekomendasi ini juga didasarkan pada prosedur penanganan dari Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo.
Pencapaian dan Harapan
Inovasi teknologi SIDA-AI telah mendapatkan pengakuan dengan meraih Juara 1 dalam AIDeaNation 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tim peneliti dari ITS berharap sistem SIDA-AI dapat segera diuji coba dan diterapkan bersama Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo.