Jakarta - Irene Chang, seorang lulusan Georgia Tech di Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa ia telah mengajukan sekitar 450 lamaran pekerjaan namun belum menerima tawaran kerja. Hal ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh para lulusan muda saat mencari pekerjaan. Apakah ini disebabkan oleh kecerdasan buatan (AI)? Sebuah survei yang dilakukan oleh ZipRecruiter pada tahun 2026 menunjukkan bahwa 47 persen pencari kerja percaya bahwa AI telah memengaruhi proses perekrutan di bidang mereka.
Ekonom dari Universitas Stanford, Erik Brynjolfsson, menyatakan bahwa AI memang memiliki dampak signifikan terhadap pekerjaan di tingkat pemula. Ia menjelaskan bahwa banyak posisi yang sebelumnya diisi oleh lulusan baru kini dapat diotomatisasi oleh sistem AI. "AI bukanlah keseluruhan penyebab, tetapi merupakan bagian dari cerita (banyak kasus) dan bukti-buktinya semakin banyak," ungkap Brynjolfsson.
Dampak AI Terhadap Pasar Kerja
Brynjolfsson dan timnya menemukan bahwa setelah peluncuran ChatGPT pada akhir 2022, pekerja muda berusia 22 hingga 25 tahun yang berada dalam posisi yang terpapar AI, seperti pengembang perangkat lunak dan manajer pemasaran, mengalami penurunan lapangan kerja sebesar 16%. Sebagai perbandingan, pekerjaan di bidang lain seperti asisten perawatan kesehatan, terapis fisik, dan pekerja konstruksi tetap stabil atau bahkan meningkat dalam periode yang sama.
Menurut Brynjolfsson, ada dua alasan utama mengapa pekerja muda yang berada di posisi yang terancam oleh AI mengalami tekanan. Pertama, mereka sering kali menjadi yang pertama terkena dampak efisiensi, dan kedua, AI dengan model bahasa besar dilatih menggunakan pengetahuan yang telah ada, yang mencakup banyak informasi yang juga dikuasai oleh pekerja muda. "Jadi bagi para pekerja yang lebih senior, jenis pengetahuan mereka tidak terlalu terpengaruh," jelasnya.
Tantangan bagi Lulusan Baru
Analisis terbaru dari Federal Reserve New York menunjukkan bahwa perusahaan semakin enggan untuk mempekerjakan lulusan baru untuk posisi yang bisa dilakukan secara remote, yang berkontribusi pada peningkatan angka pengangguran di kalangan lulusan muda.
Sebuah studi yang dilakukan oleh firma akuntansi keuangan Ramp dan Revelio Labs menemukan bahwa perusahaan yang berinvestasi besar dalam AI mengalami peningkatan jumlah karyawan tingkat pemula sebesar 12 persen dalam dua tahun setelah adopsi AI. Studi ini mencakup data dari lebih dari 21.000 perusahaan di AS antara awal tahun 2021 hingga awal tahun 2026.
Banyak ahli berpendapat bahwa AI dapat membawa perubahan ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan Revolusi Industri. Namun, di sisi lain, AI juga berpotensi menyebabkan hilangnya banyak pekerjaan. "Ini adalah masa yang sangat sulit bagi banyak pekerjaan konvensional," kata Brynjolfsson.
Data dari Bank Federal Reserve New York menunjukkan bahwa lulusan dari beberapa jurusan tertentu semakin kesulitan mendapatkan pekerjaan, terutama sejak tren AI meningkat. Hal ini tercermin dari tingginya tingkat pengangguran di kalangan lulusan muda berusia 22-27 tahun, setidaknya sejak tahun 2023. Berikut adalah beberapa jurusan dengan tingkat pengangguran yang tinggi:
- Peradilan pidana - tingkat pengangguran 67,2%
- Pentas seni - tingkat pengangguran 62,3%
- Teknisi medis - tingkat pengangguran 57,9%
- Ilmu pengetahuan (liberal) - tingkat pengangguran 56,5%
- Antropologi - tingkat pengangguran 55,9%
Dengan demikian, jelas bahwa tantangan di pasar kerja semakin kompleks, terutama bagi lulusan baru di era yang semakin dipengaruhi oleh AI.