Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengerikan telah terjadi di banyak negara selama beberapa dekade terakhir. Salah satu yang paling parah terjadi antara tahun 1974 hingga 1975 di Australia, di mana lebih dari 100 juta hektare lahan terbakar, jumlah yang hampir setara dengan gabungan luas Pulau Sumatera dan Kalimantan. Kebakaran hutan dapat terjadi secara alami dan menjadi bagian dari ekosistem yang sehat, terutama saat kondisi kering dan panas atau akibat petir, yang dapat membersihkan bahan organik mati dan melepaskan nutrisi. Namun, kebakaran yang tidak terkontrol dapat menimbulkan kerusakan yang parah, termasuk paparan asap beracun yang bertahan lama di udara.
Kebakaran Hutan Terbesar di Dunia
Berikut adalah enam kebakaran hutan terbesar yang tercatat sejak awal abad ke-20, berdasarkan informasi dari Britannica.
1. Kebakaran Hutan di New South Wales, Australia - 117 Juta Hektare (1974-1975)
Kebakaran paling besar di dunia terjadi di Australia, menghanguskan lahan seluas 117 juta hektare, yang setara dengan 15 persen dari total daratan negara tersebut. Kebakaran ini terutama terjadi di bagian tengah benua Australia. Meskipun sebagian besar lahan tidak berpenghuni, kebakaran ini menyebabkan enam orang kehilangan nyawa dan merusak sistem komunikasi serta infrastruktur lainnya.
2. Kebakaran Hutan Taiga Siberia, Rusia, Cina, dan Mongolia - 22,5 Juta Hektare (2003)
Kebakaran seluas 22,5 juta hektare melanda Rusia timur, yang juga menjalar ke Cina dan Mongolia. NASA melaporkan asap yang membubung hingga ketinggian 5 km. Kebakaran ini terjadi bersamaan dengan suhu udara yang sangat tinggi dan merupakan kelanjutan dari kebakaran di tahun sebelumnya. Meski luas, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
3. Kebakaran Hutan di Australia - 19 Juta Hektare (2019-2020)
Pada masa pandemi COVID-19, Australia mengalami kebakaran hutan hebat yang membakar 19 juta hektare lahan, mengakibatkan 33 orang meninggal dan diperkirakan satu miliar hewan tewas. Kebakaran ini terjadi pada musim panas terpanas dan terkering di Australia, yang mempercepat penyebaran api.
4. Kebakaran Hutan di Rusia - 18,2 Juta Hektare (2021)
Pada tahun 2021, Rusia mengalami kebakaran hutan yang menghanguskan 18,2 juta hektare, mencatat rekor baru sebagai kebakaran paling merusak di negara tersebut. Diperkirakan, 90 persen kebakaran disebabkan oleh aktivitas manusia, baik melalui masalah dengan saluran listrik maupun aktivitas berkemah. Namun, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat kebakaran ini.
5. Kebakaran Hutan di Kanada - 15 Juta Hektare (2023)
Pada tahun 2023, kebakaran hutan besar terjadi di Kanada, membakar 15 juta hektare lahan. Titik panas mudah menyebar karena kondisi kering dan panas ekstrem, yang menyebabkan delapan petugas pemadam kebakaran meninggal dan ratusan ribu orang terpaksa mengungsi.
6. Kebakaran Hutan di Cina dan Rusia - 7,3 Juta Hektare (1987)
Kebakaran yang melanda kedua sisi Sungai Naga Hitam ini menghanguskan lebih dari 1,3 juta hektare di Cina dan 6 juta hektare di Rusia, mengakibatkan sekitar 200 orang kehilangan nyawa dan puluhan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal.
Kebakaran Hutan di Indonesia
Kebakaran hutan dan lahan terbesar di Indonesia terjadi di Kalimantan pada tahun 1997-1998. Menurut laporan dari European Commission Joint Research Centre, World Bank, dan UNEP, diperkirakan sekitar 9,7 juta hektare lahan terbakar selama periode tersebut. Kemarau panjang yang disebabkan oleh El Niño pada tahun 1997-1998 menjadi salah satu faktor penyebab kebakaran besar ini. Namun, laporan dari Center for International Forestry Research (CIFOR) menunjukkan bahwa sebagian besar titik api disebabkan oleh aktivitas manusia, terutama dalam pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertanian menggunakan metode pembakaran.
Asap pekat menyelimuti Kalimantan selama berbulan-bulan dan bahkan menyebar ke negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, bagian selatan Thailand, dan Filipina. Menurut laporan World Bank (1999), total kerugian ekonomi akibat kebakaran pada tahun 1997-1998 diperkirakan mencapai sekitar USD 4,5 miliar, yang setara dengan lebih dari Rp 70 triliun pada kurs saat itu.
Sementara itu, pada tahun 2026, laporan resmi dari Sistem Informasi Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) milik Kementerian Kehutanan mencatat bahwa luas lahan yang terbakar telah mencapai 202 ribu hektare hanya dalam periode Januari hingga Juli 2026, dan jumlah ini masih terus bertambah mengingat kebakaran hutan masih berlangsung hingga Oktober 2026.