Jakarta - Pernahkah Anda membayangkan sebuah pemakaman yang luasnya sebanding dengan sebuah kota? Selain berfungsi sebagai penghormatan bagi yang telah meninggal, pemakaman juga sering kali mencerminkan sejarah budaya suatu daerah. Salah satu contohnya adalah Wadi al-Salam yang terletak di Najaf, Irak. Hingga kini, pemakaman ini masih aktif dan menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi lebih dari enam juta jiwa.
Ukuran Wadi al-Salam yang Mengagumkan
Wadi al-Salam, yang berarti Lembah Perdamaian, mencakup area seluas 13 persen dari total luas Kota Najaf, atau sekitar 606 hektare (2,34 mil persegi). Pemakaman ini terdiri dari mausoleum atau makam-makam besar dan mewah yang tertata rapi, dikelilingi oleh batu nisan yang lebih kecil. Sebagian besar kuburan di sini dibangun dari batu bata dan semen dengan berbagai ukuran. Terdapat juga ruang bawah tanah dan lorong-lorong makam di bawah area pemakaman yang mampu menampung hingga 50 jiwa yang telah meninggal.
Hampir semua orang yang dimakamkan di Wadi al-Salam diidentifikasi sebagai penganut Islam semasa hidupnya.
Situs Keagamaan Penting bagi Umat Muslim
Di pemakaman ini, terdapat dua nabi yang disemayamkan, yaitu Nabi Hud dan Nabi Saleh. Nabi Hud AS berusaha membujuk kaum Ad untuk meninggalkan penyembahan berhala dan berdoa kepada Allah. Namun, ia justru diejek dan ditolak, sehingga Allah mengirimkan badai yang menghancurkan kaum tersebut. Kisah serupa juga dialami Nabi Saleh AS, yang diutus untuk berdakwah kepada suku Tsamud.
Wadi al-Salam berlokasi dekat dengan Masjid Imam Ali, dan umat Muslim di Irak serta sekitarnya, termasuk Iran, menganggap pemakaman ini sebagai tempat pemakaman yang sangat dihormati.
Kondisi Terkini Wadi al-Salam
Wadi al-Salam terletak di Najaf, yang dikenal dengan sebutan Najaf al-Ashraf, yang berarti Najaf yang bermartabat. Kota ini memiliki sekitar 750 ribu penduduk dan terletak sekitar 160 kilometer di selatan Baghdad. Jumlah penduduk ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah orang yang dimakamkan di sana.
Saat ini, pemerintah daerah sedang berupaya untuk membeli lebih banyak lahan karena Wadi al-Salam sudah terlalu padat. Kepadatan ini juga menyebabkan munculnya aktivitas penguburan ilegal dan vandalisme terhadap makam-makam yang sudah ada sebelumnya. Kota ini didirikan pada tahun 791 Masehi untuk menghormati Ali bin Abi Thalib, yang dianggap sebagai penerus pertama Nabi Muhammad SAW oleh umat Muslim Syiah.