Fakta Pendidikan

Kebijakan Ketat UI: Dosen Berisiko Sanksi Jika Publikasi di Jurnal Predator

Universitas Indonesia (UI) memberlakukan kebijakan baru yang membatasi publikasi di jurnal predator dan mengutamakan pendanaan untuk jurnal bereputasi tinggi. Dosen yang melanggar kebijakan ini berpot...

W
Wira Yudha
09 October 2026
27 pembaca
Kampus UI Depok Foto: Grandyos Zafna/detikFOTO
Kampus UI Depok Foto: Grandyos Zafna/detikFOTO

Jakarta - Universitas Indonesia (UI) telah memperketat regulasi terkait publikasi ilmiah dengan membatasi pendanaan riset internal hanya untuk jurnal yang memiliki reputasi tinggi, yaitu jurnal top-tier atau kuartil pertama (Q1). Selain itu, dosen yang menerbitkan artikel di jurnal predator juga berisiko mendapatkan sanksi, meskipun menggunakan dana pribadi.

Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UI, Hamdi Muluk, menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan langkah untuk meningkatkan kualitas penelitian dan reputasi akademik UI agar dapat bersaing di tingkat internasional. "Jadi sekarang kita lebih keras. Dan kadang-kadang ini kita agak diprotes juga dari dosen muda yang merasa dia sulit menembus jurnal-jurnal top-tier," ungkap Hamdi dalam sebuah podcast yang disiarkan pada Kamis (8/10/2026).

Penegasan Larangan Terhadap Jurnal Predator

Hamdi menegaskan bahwa UI tidak akan memberikan toleransi bagi publikasi di jurnal predator atau jurnal yang tidak kredibel. Dosen yang diketahui menerbitkan karya di jurnal tersebut akan dipanggil dan dikenakan konsekuensi. "Tidak ada ruang untuk yang tadi predator. Predator atau jurnal abal-abal itu sudah tidak ada. Jadi sekarang kalau mereka ketahuan, saya punish," tegasnya.

Menurut Hamdi, kebijakan ini tidak hanya berlaku untuk publikasi yang menggunakan dana riset internal UI. Dosen yang menerbitkan artikel di jurnal predator secara mandiri, tanpa dukungan pendanaan dari kampus, tetap akan dipanggil. "Walaupun dia enggak dapat funding dari kampus, lalu inisiatif sendiri, ya tetap kita panggil. Jadi enggak ada ruang lagi untuk itu," tambahnya.

Pendanaan Riset Difokuskan untuk Jurnal Bereputasi

Hamdi menjelaskan bahwa pendanaan riset internal UI kini difokuskan untuk mendukung publikasi di jurnal top-tier atau Q1. Dosen yang ingin mengajukan pendanaan melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) masih dapat memperoleh dukungan untuk publikasi di jurnal kuartil kedua (Q2). "Kita hanya mendanai dua (kelompok) jurnal itu doang. Jadi hanya kesempatan dosen kalau mau apply dana riset, ya, dari dana kita, either itu top-tier atau Q1. Tapi dosen-dosen tersebut masih bisa apply dana Dikti, karena Dikti masih mau berikan untuk Q2," jelasnya.

Hamdi menambahkan bahwa pengetatan kebijakan publikasi penelitian merupakan bagian dari strategi UI untuk memperkuat reputasi akademik di tingkat internasional. Dalam pemeringkatan Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2027, UI mengalami peningkatan signifikan, dari klaster 801-1000 menjadi 651-700. Peringkat ini memberikan bobot yang besar pada kualitas dan lingkungan penelitian.

Hamdi juga menyatakan bahwa semakin kuat pengaruh suatu penelitian di kalangan ilmuwan, semakin besar peluang karya tersebut berkontribusi terhadap reputasi riset universitas. "Memang usaha kita yang lebih tough untuk mulai bersaing dengan (kampus) elite dunia itu adalah meningkatkan reputasi, meningkatkan influence, sehingga itu tercermin dari citation impact. Jadi kalau karya kita itu disitasi sama ilmuwan-ilmuwan hebat, skor bisa cepat naik," ujarnya.

Ia mengakui bahwa perguruan tinggi di Indonesia masih tertinggal dibandingkan universitas terkemuka dunia dalam berbagai aspek penelitian. Meskipun demikian, peningkatan reputasi akademik tidak dapat dicapai secara instan. Universitas memerlukan waktu untuk membangun ekosistem penelitian yang kuat, meningkatkan kemampuan peneliti, serta memperbaiki produktivitas dan kualitas publikasi ilmiah.

"Memang kita ketinggalan jauh. Bukan UI saja seluruh republik ini. Bayangkan UI aja yang paling depan masih ketinggalan apalagi yang lain. Nah tapi nggak bisa juga kita simsalabim tiba-tiba sudah sama posisinya hari ini sama dengan NTU (Nanyang Technological University). NTU juga butuh berapa puluh tahun juga sampai ke posisi itu," kata Hamdi.

Ia menekankan pentingnya menciptakan iklim riset yang kondusif dan meningkatkan kapabilitas dosen untuk menghasilkan penelitian berkualitas. "Yang penting iklim riset kita kondusif, environment-nya bagus, dosen senang bergairah meneliti, kapabilitasnya kita meningkatkan terus, produktivitasnya kita meningkatkan terus, kualitasnya makin meningkat. Munculnya nanti kalau research quality-nya bagus, sitasinya akan datang sendiri," imbuhnya.

Selain meningkatkan kualitas penelitian yang ada, Hamdi juga menyebutkan bahwa merekrut peneliti unggul dari luar negeri bisa menjadi strategi untuk mempercepat peningkatan reputasi universitas. Salah satu caranya adalah dengan merekrut peneliti sebagai peneliti pascadoktoral (postdoctoral researcher atau postdoc) untuk melakukan penelitian di kampus.

Namun, strategi ini memerlukan anggaran yang besar. Hamdi mengakui bahwa keterbatasan dana masih menjadi kendala bagi UI untuk bersaing melalui perekrutan peneliti unggul. "Universitas yang banyak duit itu gencar pakai strategi ini. Kayak transfer pemain bola aja biar cepat reputasi naik. Nah, untuk melakukan itu kita agak sulit karena dana masih terbatas," ujarnya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait