Di Banjar Dinas Juwuk Legi, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali, seorang anak menangis histeris saat jenazah ayahnya, yang berinisial KD, tiba di rumah duka. KD tewas setelah dikeroyok oleh massa setelah diduga mencuri ayam. Ni Luh Jelantik, anggota DPD RI dari Bali, mengungkapkan rasa sedihnya melihat kondisi anak tersebut yang kehilangan sosok ayah.
“Momen menyedihkan saat seorang anak menangis histeris menyaksikan jenazah ayahnya, yang diduga mencuri ayam, lalu dikeroyok massa hingga tewas,” ungkap Ni Luh saat dihubungi pada Minggu (26/7/2026). Ia mengecam keras tindakan pengeroyokan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang, menegaskan bahwa tindakan main hakim sendiri tidak bisa dibenarkan.
Kondisi Keluarga Korban
Ni Luh menyoroti dampak dari peristiwa tragis ini terhadap istri dan anak-anak korban. Ia menekankan bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah yang ada. “Seorang istri kehilangan suami, anak-anak kehilangan ayahnya. Dan kini mereka harus menjalani hidup dengan trauma yang membekas begitu dalam atas peristiwa yang terjadi,” sebutnya.
Ia juga mendukung pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini dan meminta agar semua pelaku diadili. “Semua pelaku harus diproses hukum dan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka,” tegasnya.
Reaksi Masyarakat dan Keluarga
Saat ini, telah ada penggalangan dana untuk membantu keluarga korban. Ni Luh menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang peduli terhadap kondisi keluarga yang ditinggalkan. “Dan jika ada hal-hal yang dapat kami lakukan untuk meringankan beban istri dan anak-anak, kami selalu ada untuk mereka,” imbuhnya.
I Made Sutama, Perbekel Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Buleleng, juga menyayangkan kejadian tersebut. KD meninggalkan seorang istri dan tiga anak, dua di antaranya masih bersekolah, dengan anak bungsu yang masih duduk di kelas 1 SD. “Kemarin saya yang menjemput jenazahnya. Saat tiba di rumah, melihat anaknya menangis tersedu-sedu, saya benar-benar sedih,” ungkap Sutama.
Momen pilu putri bungsu KD yang menangisi jenazah ayahnya menjadi viral di media sosial. Dalam rekaman yang beredar, bocah perempuan tersebut terlihat di antara kerumunan sambil terus memanggil ayahnya yang telah tiada. Sutama menyatakan bahwa keluarga telah menerima peristiwa ini sebagai musibah dan menyerahkan proses hukum kepada pihak berwajib.
Meski demikian, Sutama tetap menyesalkan aksi main hakim sendiri yang merenggut nyawa salah satu warganya. Ia menegaskan bahwa dugaan tindak pidana seharusnya diselesaikan melalui jalur hukum yang berlaku. “Kalau memang bersalah, laporkan ke pihak berwajib. Jangan melakukan main hakim sendiri sampai menghilangkan nyawa orang hanya gara-gara mencuri ayam,” tegasnya.