PT Kereta Api Indonesia (Persero) menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan teknologi Automatic Train Protection (ATP) sebagai langkah untuk memperkuat keselamatan dalam perjalanan kereta api di Indonesia. Penandatanganan nota kesepahaman mengenai kolaborasi ini berlangsung dalam acara BRIN Goes to Industry 5 di Jakarta pada Selasa, 29 Juli.
Pengembangan Teknologi ATP
Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, menjelaskan bahwa pengembangan sistem ATP memerlukan kajian, pengujian, dan evaluasi yang menyeluruh agar sesuai dengan karakteristik operasional perkeretaapian di Indonesia. "Keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap proses adopsi teknologi di KAI. Kolaborasi bersama BRIN memberi ruang bagi kami untuk menguji berbagai alternatif teknologi berbasis riset sehingga keputusan implementasinya memiliki landasan teknis, operasional, dan keselamatan yang kuat," ungkapnya.
ATP adalah sistem yang dirancang untuk melindungi perjalanan kereta dengan mencegah kereta melewati sinyal berhenti, memantau kecepatan perjalanan, serta memberikan informasi operasional kepada masinis. Sistem ini menghubungkan perangkat yang terpasang pada infrastruktur perkeretaapian dengan perangkat onboard di lokomotif atau kereta.
Proses Validasi dan Implementasi
I Gede menambahkan bahwa KAI dan BRIN akan menggunakan pendekatan proof of product untuk memvalidasi fungsi, integrasi, dan kinerja teknologi sebelum diimplementasikan. Pendekatan ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi potensi risiko dan kebutuhan penyesuaian agar teknologi dapat diterapkan sesuai dengan kondisi operasional KAI. "Proof of Product memungkinkan teknologi dinilai dalam situasi operasional yang relevan. KAI dapat memahami sejak awal fungsi, antarmuka, kebutuhan integrasi, potensi risiko, serta kemampuan pemeliharaannya sebelum teknologi tersebut diterapkan dalam skala yang lebih luas," jelasnya.
Pengembangan ATP akan dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, KAI bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian dan BRIN akan membentuk ATP Working Group pada triwulan III 2026 untuk menyusun konsep adopsi teknologi, kebutuhan fungsional, dan peta jalan implementasi. Tahap berikutnya akan fokus pada penyusunan desain dan kebutuhan teknis serta pelaksanaan market sounding kepada penyedia teknologi. Tahap akhir yang direncanakan berlangsung hingga triwulan II 2027 akan mencakup uji lapangan, evaluasi teknologi, dan penilaian keselamatan sebelum sistem diterapkan secara lebih luas.
Selain mengkaji teknologi ATP berbasis perangkat onboard dan integrasi dengan sistem persinyalan, KAI juga menjajaki alternatif teknologi berbasis satelit dan komunikasi nirkabel yang masih memerlukan kajian lebih lanjut, termasuk dari aspek regulasi dan kesiapan infrastruktur komunikasi. Kerja sama antara KAI dan BRIN juga mencakup riset, penyusunan dokumen teknis, kajian kesiapan integrasi teknologi, serta penyusunan rekomendasi implementasi bersama regulator, lembaga riset, konsultan, produsen sarana, dan penyedia teknologi.
"Bagi KAI, keberhasilan kolaborasi ini akan diukur dari kemampuan riset menghasilkan keputusan teknologi yang tepat, dapat diintegrasikan dengan sistem perkeretaapian nasional, memenuhi persyaratan keselamatan, dan dapat dikelola secara berkelanjutan," kata I Gede. Ia berharap pengembangan ATP akan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem inovasi perkeretaapian yang lebih mandiri, adaptif, serta mampu mendukung keselamatan dan keandalan perjalanan kereta dalam jangka panjang.