Di Jakarta, Pusat Koperasi Karyawan (Puskopkar) PTPN VIII mengambil langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap bisnis perusahaan induknya, PTPN VIII. Koperasi ini mulai memperluas jangkauan usahanya ke berbagai sektor baru, seperti distribusi teh, agrowisata, laundry coin, dan barbershop. Langkah ini diambil untuk menciptakan sumber pendapatan yang lebih beragam dan memastikan kinerja koperasi tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi perusahaan induk.
Dari Ketergantungan ke Diversifikasi
Sekretaris Puskopkar PTPN VIII, Dina Novelia Hidayat, menjelaskan bahwa selama ini kegiatan usaha koperasi banyak terikat pada ekosistem bisnis PTPN VIII yang kini menjadi bagian dari PTPN I Regional II. Meskipun model bisnis ini memberikan pasar yang stabil, ketergantungan pada satu ekosistem usaha juga menjadi tantangan ketika kondisi bisnis perusahaan induk mengalami perubahan. "Awalnya Puskopkar ini sangat tergantung dengan bisnis PTPN, sangat captive market. Harapannya kami tidak tergantung dari induk perusahaan, sehingga ketika kondisi PTPN sedang di bawah, kami tidak ikut ke bawah. Kami harus punya keranjang-keranjang lain," ungkap Dina.
Saat ini, Puskopkar masih menjalankan bisnis yang berkaitan dengan ekosistem PTPN, termasuk jasa angkutan produksi yang mengangkut pucuk teh dari kebun ke pabrik dan mendistribusikan produk teh jadi kepada konsumen. Koperasi ini juga menjadi distributor untuk berbagai produk teh PTPN, seperti Walini, Goalpara, dan Gunung Mas, dengan pasar yang kini mulai diperluas ke segmen hotel, restoran, dan kafe.
Mengembangkan Sumber Pendapatan Baru
Selain bisnis yang sudah ada, Puskopkar mulai mengembangkan sumber pendapatan baru dengan memasuki sektor agrowisata di kawasan Ciwalini dan layanan jasa seperti laundry coin dan barbershop. Diversifikasi usaha ini merupakan strategi Puskopkar untuk membangun portofolio bisnis yang lebih beragam dan mengoptimalkan aset yang dimiliki. Dina menekankan bahwa pengembangan bisnis baru ini memerlukan dukungan permodalan yang lebih besar. Modal internal koperasi selama ini bersumber dari simpanan anggota, namun kebutuhan modal meningkat seiring dengan rencana ekspansi usaha.
Puskopkar telah memanfaatkan pembiayaan dana bergulir dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi sejak tahun 2021 dan kini kembali mengajukan proposal pembiayaan untuk mendukung pengembangan beberapa lini usaha, termasuk optimalisasi aset di kawasan Ciwaruga, Bandung Barat. "Kami membutuhkan modal yang lebih besar dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan adanya kerja sama dengan LPDB, harapannya modal kerja kami semakin kuat sehingga bisnis bisa berkembang," jelas Dina.
Proses pengajuan pembiayaan juga mendorong koperasi untuk lebih tertib dalam aspek administrasi, legalitas, tata kelola, dan manajemen risiko. Dina menambahkan bahwa proses ini penting untuk memastikan bahwa ekspansi bisnis dapat dilakukan dengan cara yang sehat dan berkelanjutan. "Kalau prosesnya melalui Good Corporate Governance dan dokumen yang lengkap, justru itu menjadi pengamanan bagi kami juga," tuturnya.
Ke depan, Puskopkar berencana untuk mengoptimalkan aset di kawasan Ciwaruga yang direncanakan untuk berbagai kegiatan usaha, termasuk konsep penginapan atau cottage. Aset tersebut juga dipertimbangkan sebagai lokasi kantor tetap Puskopkar serta ruang untuk mengembangkan unit usaha baru yang dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih optimal.
Direktur Utama LPDB Koperasi, Krisdianto, menyatakan bahwa perkembangan Puskopkar menunjukkan bahwa koperasi dapat terus tumbuh dengan memanfaatkan peluang bisnis dan mengembangkan sumber pendapatan baru. Ia menekankan bahwa diversifikasi usaha adalah langkah penting untuk membangun ketahanan bisnis, terutama bagi koperasi yang memiliki keterkaitan kuat dengan satu ekosistem usaha. "Puskopkar PTPN VIII memberikan contoh bahwa koperasi tidak harus berhenti pada bisnis yang sudah berjalan. Koperasi dapat mengembangkan usaha baru dengan tetap memanfaatkan kekuatan yang dimiliki, sekaligus membangun sumber pendapatan yang lebih beragam," kata Krisdianto.
Ia juga menambahkan bahwa pembiayaan dana bergulir dari LPDB diarahkan untuk memperkuat kapasitas usaha koperasi agar dapat tumbuh secara sehat, produktif, dan memberikan manfaat bagi anggota. "Yang kami harapkan bukan hanya pembiayaan tersalurkan, tetapi bagaimana pembiayaan tersebut menjadi pengungkit produktivitas dan kemandirian koperasi. Ketika unit usaha berkembang, aset bertambah, dan bisnis semakin kuat, pada akhirnya manfaatnya harus kembali kepada anggota," tutup Krisdianto.
Dengan menaungi 43 koperasi primer dan ribuan anggota yang sebagian besar berasal dari ekosistem PTPN, Puskopkar kini berupaya membangun portofolio usaha yang lebih beragam. Dari bisnis angkutan produksi dan distribusi teh hingga agrowisata dan layanan jasa, diversifikasi menjadi strategi Puskopkar untuk memperkuat kemandirian koperasi sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi para anggotanya.