Jakarta - Iran dan Amerika Serikat (AS) telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan. Namun, kesepakatan ini hampir gagal akibat tindakan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Pengumuman mengenai kesepakatan damai tersebut disampaikan oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, pada Senin (15/6/2026).
Sharif mengungkapkan bahwa Iran dan AS dijadwalkan untuk menandatangani kesepakatan damai pada tanggal 19 Juni mendatang. "Kedua belah pihak telah menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon. Upacara penandatanganan resmi akan diadakan pada hari Jumat, 19 Juni di Swiss," jelasnya.
Proses Menuju Kesepakatan
Menurut Sharif, kesepakatan ini dicapai setelah melalui serangkaian pertemuan yang difasilitasi oleh mediator. Ia menambahkan bahwa implementasi awal akan dilakukan sambil melanjutkan pembicaraan teknis terkait upacara penandatanganan kesepakatan damai. "Dengan adanya kesepakatan ini, para mediator akan memfasilitasi serangkaian pertemuan minggu ini. Diskusi pra-implementasi ini akan meletakkan dasar untuk pembicaraan teknis dan upacara penandatanganan resmi," lanjutnya.
Presiden AS, Donald Trump, juga mengonfirmasi kesepakatan tersebut, menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran telah selesai. "Kesepakatan dengan Republik Islam Iran sekarang telah selesai. Selamat kepada semua pihak!" tulis Trump di akun media sosialnya setelah pengumuman dari PM Pakistan. Ia berharap kesepakatan ini akan berdampak positif pada kelancaran suplai minyak dunia dan mencabut blokade militer AS di Selat Hormuz.
Komitmen Iran dan Dampaknya
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa negara tersebut berkomitmen pada kesepakatan yang telah dicapai. Ia mengkonfirmasi bahwa nota kesepahaman akan ditandatangani pada Jumat, 19 Juni. "Teks nota kesepahaman telah diselesaikan, dan penandatanganan resmi Nota Kesepahaman Islamabad akan berlangsung di Swiss pada hari Jumat," ungkap Gharibabadi.
Gharibabadi menjelaskan bahwa kesepakatan ini mencakup dua hal penting: pengakhiran perang di semua wilayah Iran, termasuk di Lebanon, dan pencabutan blokade yang diberlakukan oleh AS. Ia menyebut kesepakatan damai ini sebagai kemenangan bagi Iran, menegaskan bahwa musuh yang berusaha mencapai tujuan jahatnya telah dikalahkan.
Namun, Trump mengungkapkan bahwa Netanyahu hampir menggagalkan kesepakatan damai ini. Dalam wawancara dengan New York Times, Trump menyebut Netanyahu sebagai 'orang yang sangat sulit'. Ia mengklaim bahwa kesepakatan damai ini tercapai meskipun ada penolakan dari Netanyahu, dan menekankan bahwa serangan Israel terhadap Lebanon pada Minggu (14/6) dapat mengancam kesepakatan tersebut.
Trump menegaskan bahwa serangan tersebut 'seharusnya tidak terjadi' ketika AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan damai. Ia juga menyatakan bahwa Netanyahu seharusnya berterima kasih kepada AS karena berhasil mencapai kesepakatan ini, mengingat potensi ancaman nuklir dari Iran.
"Dia (Netanyahu) orang yang sangat sulit. Dan jujur saja, dia seharusnya sangat berterima kasih kepada kita karena telah melakukan ini. Karena jika Iran memiliki senjata nuklir, Israel tidak akan bertahan selama dua jam," tutup Trump.