Fakta Pendidikan

Ketakutan Warga AS Terhadap AI Mengalahkan Terorisme

Survei terbaru menunjukkan bahwa kecerdasan buatan (AI) kini menjadi salah satu sumber ketakutan utama bagi masyarakat Amerika Serikat, bahkan melampaui ketakutan terhadap terorisme.

U
Ulam Kirana
23 October 2026
20 pembaca
Ilustrasi AI Foto: Getty Images/Nirunya Juntoomma
Ilustrasi AI Foto: Getty Images/Nirunya Juntoomma

Jakarta - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah menjadi salah satu sumber ketakutan yang signifikan bagi masyarakat di Amerika Serikat. Sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh Chapman University mengungkapkan bahwa kekhawatiran akan dampak AI terhadap politik dan ekonomi termasuk dalam sepuluh besar ketakutan warga AS pada tahun 2026, bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan ketakutan akan serangan teroris.

Data ini diperoleh dari 2026 Chapman University Survey of American Fears, sebuah survei tahunan yang mengeksplorasi berbagai hal yang menjadi kekhawatiran masyarakat AS. Penelitian ini dilaksanakan oleh NORC melalui panel AmeriSpeak, melibatkan 1.221 responden yang diwawancarai secara daring antara 7 hingga 21 April 2026. Survei ini memiliki margin of error sebesar plus minus 3,79%.

Kekhawatiran Terhadap AI Meningkat

Dalam survei tersebut, sebanyak 51,9% responden mengungkapkan ketakutan bahwa AI dapat merusak proses politik, menempatkannya di peringkat ketiga dalam daftar ketakutan masyarakat AS. Sementara itu, 49,7% responden khawatir bahwa AI akan berdampak negatif terhadap perekonomian, yang berada di peringkat ketujuh. Ketakutan akan serangan teroris sendiri berada di posisi kesepuluh, dengan 47,3% responden menyatakan ketidakpastian terhadap ancaman tersebut.

"Temuan ini memperjelas bahwa warga Amerika tidak hanya khawatir tentang apa arti AI bagi pekerjaan mereka, tetapi juga tentang potensi dampaknya pada sistem politik dan ekonomi kita," kata Christopher Bader, PhD, profesor sosiologi di Chapman University dan pendiri survei tersebut.

Korupsi Pemerintah Masih Jadi Ketakutan Utama

Walaupun AI telah menjadi perhatian utama, isu korupsi pemerintah tetap menjadi sumber kecemasan terbesar. Sebanyak 61,1% responden mengaku takut terhadap pejabat pemerintah yang korup, menjadikannya sebagai isu yang menduduki peringkat pertama, melanjutkan posisi serupa dari tahun sebelumnya.

"Faktanya, ketakutan terhadap pejabat pemerintah yang korup telah menempati posisi teratas selama 11 survei terakhir. Tahun ini, sekitar 61% warga Amerika mengaku takut atau sangat takut terhadap hal tersebut," ujar Bader.

Rekan sejawatnya, Steven Pfaff, menjelaskan bahwa tingginya kekhawatiran terhadap korupsi mencerminkan persepsi masyarakat tentang praktik tersebut yang tersebar di berbagai tingkat pemerintahan, baik federal, negara bagian, maupun lokal, serta melintasi perbedaan afiliasi politik.

"Ketakutan yang meluas terhadap korupsi ini mencerminkan suasana publik ketika masyarakat meyakini bahwa pemerintah didominasi oleh kelompok-kelompok berkepentingan yang memiliki kekuasaan dan sumber daya besar, dengan mengorbankan kepentingan rakyat Amerika dan dengan cara-cara yang merusak demokrasi. Kekhawatiran mengenai peran uang dalam politik menjadi salah satu pendorong utama fenomena ini," tambah Pfaff.

Survei tahun ini juga untuk pertama kalinya mengajukan pertanyaan khusus mengenai AI, dan hasilnya menunjukkan bahwa dua kekhawatiran terkait teknologi tersebut langsung masuk dalam daftar sepuluh besar ketakutan.

"Seiring dengan semakin terintegrasinya kecerdasan artifisial dalam kehidupan sehari-hari, memahami berbagai kekhawatiran ini akan menjadi semakin penting. Kami memperkirakan kekhawatiran tentang AI akan tetap menjadi bagian penting dalam diskusi nasional pada tahun-tahun mendatang," ungkap Bader.

Selain ketakutan terhadap AI yang dapat merusak proses politik dan perekonomian, survei juga mengungkap sejumlah faktor yang berkaitan dengan tingkat kecemasan masyarakat terhadap teknologi tersebut. Seth Benzell, asisten profesor yang meneliti ekonomi AI, menjelaskan bahwa kekhawatiran masyarakat tidak hanya berkaitan dengan kemungkinan otomatisasi pekerjaan dan penggantian tenaga manusia oleh mesin, tetapi juga dampak AI terhadap masyarakat dan lingkungan.

Hasil survei menunjukkan bahwa tingkat penggunaan AI berkaitan dengan perbedaan tingkat ketakutan. Responden yang menggunakan AI setidaknya sekali seminggu cenderung merasa lebih sedikit takut dibandingkan mereka yang tidak pernah menggunakannya. Sebagai contoh, 46 persen pengguna AI mingguan mengaku takut teknologi tersebut merusak proses politik, angka ini lebih rendah dibandingkan 55 persen responden yang tidak pernah menggunakan AI.

Perbedaan juga terlihat pada kekhawatiran terhadap dampak AI terhadap lingkungan. Sebanyak 32 persen pengguna AI mingguan menyatakan takut terhadap dampak tersebut, dibandingkan 50 persen pada kelompok yang tidak pernah menggunakan AI. Menurut Benzell, temuan ini memberikan sedikit optimisme mengenai perkembangan kekhawatiran terhadap AI.

Namun, hubungan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa penggunaan AI menyebabkan seseorang menjadi lebih percaya atau tidak takut terhadap teknologi tersebut. Survei juga menemukan perbedaan tingkat kekhawatiran terhadap AI berdasarkan afiliasi politik. Responden yang mengidentifikasi diri sebagai Demokrat atau cenderung mendukung Partai Demokrat umumnya lebih khawatir terhadap dampak AI dibandingkan responden Republik atau yang cenderung mendukung Partai Republik.

Perbedaan paling signifikan terlihat pada kekhawatiran terhadap dampak AI terhadap perekonomian, dengan selisih 28 poin persentase, serta terhadap lingkungan, dengan selisih 27 poin persentase. Dalam persoalan dampak AI terhadap proses politik, sebanyak 64 persen responden Demokrat mengaku takut, sedangkan pada kelompok Republik angkanya mencapai 40 persen. Benzell menduga perbedaan tersebut mungkin berkaitan dengan pendekatan pemerintahan presiden saat ini yang dinilainya lebih antusias dalam mendorong pengembangan AI.

Daftar sepuluh ketakutan warga AS tahun 2026 adalah sebagai berikut:

  1. Pejabat Pemerintah yang Korup (61,1%)
  2. AS Terlibat Perang Dunia (58%)
  3. AI Mencederai Politik (51,9%)
  4. Orang yang Dicintai Sakit Kronis (51,8%)
  5. Orang yang Dicintai Sekarat (50,6%)
  6. Disfungsi Ekonomi (50,6%)
  7. AI Mencederai Ekonomi (49,7%)
  8. Pelacakan Data Pribadi oleh Pemerintah (48,9%)
  9. Perang Biologis (48,2%)
  10. Serangan Teroris (47,3%)
detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait