Fakta Pendidikan

Kisah Haru Taranda, Lulusan UNY yang Meninggal Sebelum Wisuda

Taranda Finuri A'raf Habib al Furqon, seorang mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta, meninggal dunia sebelum dapat menghadiri wisudanya akibat infeksi paru-paru. Kakak sepupunya mewakili untuk...

P
Panca Akbar Saputra
27 August 2026
29 pembaca
Wisudawan UNY Taranda Finuri. Foto: Dok UNY
Wisudawan UNY Taranda Finuri. Foto: Dok UNY

Taranda Finuri A'raf Habib al Furqon, seorang lulusan dari program studi S1 Pendidikan Tata Boga di Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), meninggalkan kisah yang mengharukan. Meskipun berhasil menyelesaikan studinya, ia tidak sempat mengambil ijazahnya karena telah meninggal dunia sebelum wisuda akibat infeksi paru-paru.

Hari kelulusan yang seharusnya menjadi momen bahagia bagi keluarga Taranda justru berubah menjadi duka. Kakak sepupunya, Pramanda Arif Setiawan, hadir untuk mewakili Taranda dalam prosesi wisuda. Pramanda mengungkapkan bahwa momen tersebut sangat emosional, bukan hanya karena ketidakhadiran Taranda, tetapi juga karena ia telah mendampingi Taranda sejak awal masuk UNY. "Saya dulu yang mengantar dia masuk UNY. Waktu mengurus berkas dan ke rektorat juga saya," ujarnya.

Perjuangan Taranda Menuju Wisuda

Pramanda mengenang perjalanan panjang yang dilalui Taranda hingga mencapai titik kelulusan. Ia mengingat bagaimana kedua orang tua Taranda berjuang untuk mendampingi putra sulung mereka menyelesaikan pendidikan. Taranda dikenal sebagai sosok yang pendiam dan jarang mengeluhkan kondisi kesehatannya. Meskipun merasa tidak enak badan menjelang bimbingan terakhir, ia tetap berusaha menjalani aktivitasnya.

Taranda telah menyelesaikan skripsinya dan hanya menunggu proses wisuda. Namun, takdir berkata lain ketika ia didiagnosis mengalami infeksi paru-paru setelah awalnya hanya dianggap menderita flu biasa. "Orang tuanya shock, karena dia pendiam. Kalau sakit jarang omong, tidak mengungkapkan kepada keluarga," tambah Pramanda.

Cinta Taranda Terhadap Dunia Kuliner

Taranda menempuh pendidikan di bidang yang sangat ia cintai, yaitu Tata Boga, yang juga menjadi jurusan pilihannya saat bersekolah di SMK. Kecintaannya terhadap dunia memasak terlihat jelas di rumah, di mana ia sering bereksperimen dengan peralatan dapur untuk praktik kuliah. Hasil masakannya kadang dibawa untuk dicicipi oleh keluarga.

Keluarga Taranda memiliki kedekatan dengan bidang tata boga, terutama ibunya, Nanik, yang gemar memasak dan selalu membuatkan makanan untuknya. Dari sinilah Taranda tumbuh menjadi sosok yang serius menekuni dunia kuliner melalui pendidikan.

Ijazah Sebagai Kenangan Perjuangan

Ijazah Taranda kini menjadi simbol perjalanan dan perjuangan yang telah dilalui oleh dirinya dan keluarganya. Pramanda menyaksikan bagaimana orang tua Taranda berjuang untuk mendampingi putra mereka selama perawatan di rumah sakit. Keduanya merupakan pelaku usaha yang terpaksa menutup warung dan bergantian menjaga Taranda saat dirawat.

Pramanda mengambil ijazah Taranda karena orang tuanya tidak sanggup. "Saya melihat perjuangan orang tuanya. Karena itu, saya mengambil ijazah, karena orang tuanya tidak kuat," ungkapnya. Bagi Pramanda, ijazah tersebut bukan sekadar dokumen, melainkan harapan agar adik Taranda dapat belajar dari perjuangan kakaknya. "Harapannya dengan adanya ijazah ini, masih bermanfaat untuk adiknya, lebih dewasa lagi, untuk belajar, untuk sekolahnya," tambah Pramanda.

Pramanda juga berpesan kepada mahasiswa lainnya untuk selalu mengingat perjuangan orang tua mereka dalam menyelesaikan studi. Meskipun perjuangan tersebut seringkali tidak terlihat, doa dan dukungan selalu menyertai setiap langkah mahasiswa.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait