Fakta Pendidikan

Kisah Inspiratif Wisudawan Nigeria di UNS yang Menguasai Bahasa Jawa

Mustapha Abolore Abdulwahab, wisudawan dari Nigeria di UNS, berbagi pengalaman uniknya selama studi di Solo, termasuk kemampuan berbahasa Jawa yang telah dikuasainya.

A
Agustinus Jaya Wiratama
28 September 2026
30 pembaca
Mustapha, Wisudawan UNS Asal Nigeria. (Foto: UNS)
Mustapha, Wisudawan UNS Asal Nigeria. (Foto: UNS)

Mustapha Abolore Abdulwahab, seorang mahasiswa internasional dari Nigeria, baru saja diwisuda di Universitas Sebelas Maret (UNS) pada periode 8 tahun 2026. Menariknya, ia kini sudah mahir berbahasa Jawa. "Sejujurnya, sampai pagi ini pun saya masih bertanya kepada diri sendiri, 'Kok iso tekan kene, ya?'" ungkapnya, seperti yang dilaporkan oleh laman resmi UNS.

Pengalaman Pertama di Indonesia

Mustapha, yang mengambil Program Studi Agroteknologi, menceritakan bahwa saat pertama kali tiba di Indonesia, ia merasa bingung dengan kebiasaan masyarakat yang sering menanyakan ke mana ia akan pergi. "Setiap kali saya keluar kamar, selalu ada yang bertanya, 'Mas, mau ke mana?' Satpam bertanya. Ibu kos bertanya. Tukang parkir bertanya. Dan dalam bahasa Jawa, lebih halus lagi: 'Badhe tindak pundi?'" ia menjelaskan.

Pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang baru bagi Mustapha. Ia sempat berpikir bahwa banyaknya pertanyaan itu adalah bentuk interogasi. "Bapak, Ibu, di negara saya, kalau banyak orang bertanya berulang-ulang ke mana Anda pergi, biasanya Anda sedang dalam masalah. Padahal saya hanya mau beli air," katanya, yang membuat hadirin tertawa.

Refleksi Perjalanan Wisudawan

Seiring waktu, Mustapha mulai memahami bahwa pertanyaan tersebut adalah bentuk perhatian dari masyarakat sekitar. Ia mengajak para wisudawan untuk merenungkan perjalanan mereka. Menurutnya, setiap lulusan memiliki cerita, tantangan, dan latar belakang yang berbeda. "Ada wisudawan diploma, yang tangannya sudah terampil bahkan sebelum teorinya selesai ditulis. Ada wisudawan sarjana, dan sebagian dari mereka orang pertama di keluarganya yang mengenakan toga," ujarnya.

Mustapha juga memberikan penghargaan kepada para wisudawan magister yang menjalani perkuliahan sambil bekerja, serta kepada para doktor dan doktor spesialis yang telah bertahun-tahun belajar dengan tekun. "Berbeda jenjang, berbeda fakultas, berbeda usia. Tetapi hari ini kami mengenakan toga yang sama, dan berutang terima kasih kepada orang-orang yang sama," tegasnya.

Peran Keluarga dalam Pendidikan

Ia menekankan bahwa orang tua, wali, dan keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan setiap wisudawan. Mustapha menyebutkan bahwa keputusan orang tua untuk mempercayakan pendidikan anak kepada perguruan tinggi adalah suatu bentuk kepercayaan yang besar. "Bertahun-tahun lalu, Bapak dan Ibu menitipkan kami kepada universitas ini. Ada yang dari pulau yang berbeda, dan ada yang, seperti orang tua saya, dari benua yang berbeda. Itu bukan keputusan yang mudah. Itu adalah kepercayaan," ungkapnya.

Di balik keberhasilan seorang anak dalam menyelesaikan pendidikan, Mustapha mengingatkan bahwa terdapat pengorbanan dan doa orang tua yang jauh lebih panjang daripada satu hari prosesi wisuda. "Yang paling terasa berat dalam perpisahan itu sesungguhnya bukan kami yang pergi, melainkan Bapak dan Ibu yang ditinggalkan. Toga ini kami kenakan satu hari, Bapak dan Ibu menanggungnya bertahun-tahun," tuturnya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait