Fakta Pendidikan

Kondisi Pemandian Umum di Pompeii Sebelum Era Romawi: Air Keruh dan Tercemar

Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa pemandian umum di Pompeii sebelum dijajah Romawi memiliki air yang keruh dan terkontaminasi logam berat serta limbah manusia. Temuan ini berasal dari analisis il...

S
Stevani Nila Wardana
27 July 2026
8 pembaca
Foto: Gül Sürmelihindi dkk/PNAS
Foto: Gül Sürmelihindi dkk/PNAS

Bayangkan hidup di zaman Pompeii dan mengunjungi pemandian umum di sana. Air yang tersedia sangat keruh, dengan suhu yang terlalu tinggi, sehingga terkontaminasi oleh logam berat dan limbah manusia. Penemuan ini berasal dari penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari Universitas Johannes Gutenberg (JGU) Mainz, Jerman, yang menganalisis endapan kerak kapur di sumur, pipa, dan kolam di pemandian kuno Pompeii.

Pemandian Republik dan Analisis Isotop

"Di apa yang disebut Pemandian Republik - fasilitas pemandian umum tertua di kota ini, yang berasal dari zaman pra-Romawi sekitar 130 SM - kami dapat membuktikan melalui analisis isotop bahwa air pemandian berasal dari sumur, dan tidak diganti secara teratur," ungkap Dr. Gul Surmelihindi, penulis utama studi tersebut.

Pompeii, yang kini terletak di kawasan Italia selatan, menjadi koloni Romawi pada tahun 80 SM setelah sebelumnya diduduki oleh suku Samnit. Pada tahun 79 M, letusan gunung berapi Vesuvius mengubur kota ini dalam abu dan bebatuan. Para ahli geologi menemukan bahwa sistem pemandian kuno Samnit mengambil air dari sumur dalam dengan menggunakan mesin yang digerakkan oleh budak, berfungsi seperti roda penggerak. Namun, air tanah tersebut telah terkontaminasi oleh endapan vulkanik.

Kontaminasi dan Standar Kebersihan

Analisis mineral menunjukkan bahwa air dari sumur dalam tersebut tercemar logam berat seperti timbal, seng, dan tembaga, serta limbah manusia seperti keringat dan urin. Surmelihindi menambahkan, "Oleh karena itu, kondisi tersebut tidak memenuhi standar kebersihan tinggi yang biasanya dikaitkan dengan bangsa Romawi."

Setelah penaklukan Romawi, saluran air (akuaduk) dibangun untuk mengalirkan air dari mata air alami dengan kadar logam berat yang lebih rendah dan dapat diganti lebih sering. Sebelum kedatangan Romawi, mesin pengangkat air yang digerakkan budak hanya mampu mengambil sekitar 3.200 liter air per jam. Namun, setelah saluran air dibangun, jumlah air yang mengalir ke pemandian meningkat hingga 50 kali lipat, meskipun akuaduk juga memasok air untuk pemandian dan air mancur lainnya di Pompeii.

Walaupun seharusnya dapat membersihkan lebih banyak kotoran dan keringat dari pengunjung, Profesor Cees Passchier, rekan penulis studi, menyatakan bahwa pemandian tersebut tetap akan kotor jika airnya tidak diganti dalam waktu yang lama. "Mengunjungi pemandian itu pasti merupakan pengalaman yang berisik, meriah, dan mungkin berbau - lebih merupakan acara sosial daripada yang lain," kata Passchier.

Dia juga menjelaskan bahwa orang-orang tidak menggunakan sabun, melainkan minyak zaitun untuk membersihkan diri, dan sebagian minyak tersebut akan masuk ke dalam air. Sejarawan Romawi, Alexander Meddings, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menambahkan bahwa pemandian kuno tersebut akan tampak 'cukup suram menurut standar saat ini' meskipun sudah ada saluran air.

Para penulis studi saat ini tengah melakukan analisis DNA lebih lanjut terhadap endapan kerak kapur, yang diharapkan dapat mengungkap lebih banyak informasi mengenai kondisi pemandian tersebut. Studi mereka telah diterbitkan pada 12 Januari 2026 di jurnal PNAS dengan judul "Seeing Roman life through water: Exploring Pompeii's public baths via carbonate deposits".

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait