Fakta Pendidikan

Konferensi Internasional Redea 2026, Wamen Stella Christie Ingatkan Risiko Ketergantungan pada AI

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan memunculkan tantangan baru, di mana Wakil Menteri Stella Christie mengingatkan pentingnya kemampuan berpikir kritis siswa.

P
Padma Dewi
10 October 2026
27 pembaca
Redea International Conference 2026, Wamen Stella Christie Ingatkan Bahaya Ketergantungan AI
Redea International Conference 2026, Wamen Stella Christie Ingatkan Bahaya Ketergantungan AI

JAKARTA - Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menghadirkan tantangan tersendiri bagi sektor pendidikan. Sekolah dituntut untuk tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memastikan bahwa siswa memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan berempati. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, mengingatkan bahwa penggunaan AI yang berlebihan dapat mengganggu proses belajar yang seharusnya dialami oleh siswa.

“Ketika AI mengambil alih seluruh proses pemecahan masalah, peringkasan, hingga penyusunan informasi, siswa justru berisiko kehilangan kesempatan mengembangkan kemampuan berpikirnya,” ungkap Wamen Stella Christie saat menjadi pembicara penutup pada Redea International Conference ke-16 yang diselenggarakan oleh Redea Institute pada 8–9 Oktober 2026.

Data dan Temuan Penting

Wamen Stella juga memaparkan data dari OECD (2026) yang menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan AI setiap hari atau hampir setiap hari memiliki rata-rata skor sains yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak pernah atau jarang menggunakan teknologi tersebut. “Guru seharusnya tidak sekadar mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi juga mengajarkan agar posisi murid di masa depan tidak bisa digantikan oleh AI. Kita harus mampu mengevaluasi hasil dari AI secara kritis,” tegasnya.

Dia juga mengutip data dari World Economic Forum (2025) yang menempatkan agilitas, pembelajaran berkelanjutan, dan kreativitas sebagai keahlian utama yang paling dibutuhkan pada tahun 2030. Pesan ini sejalan dengan tema konferensi yang diusung oleh Redea Institute, yaitu Guardians of the Future: Sustainably Impactful and Future-Driven School.

Pendidikan Berkelanjutan dan Lingkungan Hidup

Konferensi ini menjadi platform diskusi bagi para ahli pendidikan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, untuk membahas transformasi sekolah menjadi ekosistem pembelajaran yang inovatif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan manusia. Pendiri sekaligus CEO Redea Institute, Antarina S.F. Amir, menekankan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan.

Menurut Antarina, pendidikan masa depan tidak cukup hanya mengandalkan kecanggihan teknologi. Sekolah harus mampu membentuk generasi yang tangguh, adaptif, serta peduli terhadap lingkungan dan sesama. “Sebagai pendidik, kami adalah penjaga rasa ingin tahu dan sisi kemanusiaan peserta didik,” ujarnya.

Dia juga menekankan pentingnya pengambilan keputusan berbasis bukti, pengembangan kompetensi guru secara berkelanjutan, serta memberikan ruang bagi siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. “Sekolah yang berkelanjutan adalah ekosistem hidup yang terus belajar, beradaptasi, dan berkembang agar teknologi memiliki tujuan jelas: membentuk pribadi yang tangguh, kreatif, dan berempati,” tambahnya.

Selain membahas perkembangan teknologi, konferensi ini juga menyoroti pentingnya pendidikan lingkungan hidup. Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH, Edward Nixon Pakpahan, menegaskan bahwa perbaikan kualitas lingkungan merupakan kebutuhan mendesak yang memerlukan keterlibatan berbagai pihak. “Memperbaiki lingkungan hidup adalah kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda,” ujarnya.

Edward menilai bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat adalah kunci keberhasilan dalam menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik. Sejalan dengan pandangan tersebut, Redea Institute mendorong sekolah untuk mengintegrasikan kepedulian terhadap lingkungan dalam kurikulum, budaya sekolah, kegiatan operasional, hingga tata kelola lembaga pendidikan.

Konferensi internasional ini juga menghadirkan sejumlah pembicara, termasuk Aaron Eisberg dari Friends of New Tech (FONT), Napa, California, Richard Cash, dan Ken Moore. Selain menghadirkan diskusi para pakar, Redea Institute juga memberikan kesempatan bagi guru untuk menunjukkan inovasi pembelajaran melalui sesi Learning Heroes, di mana pendidik terpilih dari jaringan EcoSocioTech (EST) School, mulai dari jenjang PAUD, SD, SMP, hingga SMA, mempresentasikan praktik pembelajaran inovatif serta hasil riset aksi yang diterapkan di kelas.

Melalui kegiatan ini, Redea Institute, yang sebelumnya dikenal sebagai HighScope Indonesia Institute, menegaskan komitmennya untuk memperkuat kompetensi pendidik sekaligus mendorong transformasi sekolah.

jpnn.com Sumber: jpnn.com

Artikel Terkait