Fakta Nasional

Kritik Terhadap Suporter Jepang Usai Pembersihan Stadion Piala Dunia

Suporter tim nasional Jepang kembali menuai pujian karena kebiasaan membersihkan stadion setelah pertandingan, namun kali ini mereka menghadapi kritik dari masyarakat Jepang terkait standar ganda dala...

P
Panca Akbar Saputra
20 June 2026
3 pembaca
Laki-laki Jepang menempati peringkat terendah di antara negara-negara maju dalam hal waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan rumah tangga (Getty Images)
Laki-laki Jepang menempati peringkat terendah di antara negara-negara maju dalam hal waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan rumah tangga (Getty Images)

Tokyo - Selama bertahun-tahun, para pendukung tim nasional sepak bola Jepang dikenal karena kebiasaan mereka yang selalu membersihkan stadion setelah tim mereka bertanding di Piala Dunia. Namun, setelah pertandingan pertama Jepang di Piala Dunia 2026, mereka justru mendapatkan kritik dari sebagian warga Jepang.

Foto-foto yang beredar menunjukkan para penggemar tim Samurai Biru sedang membersihkan tribun stadion sambil membawa kantong sampah. Menanggapi hal ini, beberapa kalangan merasa ada standar ganda yang berlaku. Mereka berpendapat bahwa meskipun laki-laki Jepang terlihat aktif membersihkan di tempat umum, mereka cenderung meninggalkan tanggung jawab kebersihan di rumah kepada istri mereka.

Data Survei Mengenai Pembagian Tugas Rumah Tangga

Sebuah survei pemerintah yang dilakukan pada tahun 2021 menunjukkan bahwa dalam rumah tangga dengan dua penghasilan dan anak-anak di bawah enam tahun, perempuan menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari untuk pekerjaan rumah tangga, sementara laki-laki hanya menghabiskan kurang dari dua jam.

Poster berbahasa Jepang yang viral kemudian membandingkan seorang laki-laki yang memungut sampah di stadion dengan gambar yang sama dari laki-laki tersebut yang terlihat berbaring di sofa di rumahnya. Dalam gambar kedua, ia tampak sedang bermain ponsel di dekat istrinya yang mencuci piring. Teks pada poster tersebut menyatakan bahwa laki-laki di Jepang perlu lebih banyak membantu di rumah.

"Waktu yang mereka habiskan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga termasuk yang terpendek di dunia," demikian bunyi pesan dalam poster tersebut.

Respon Publik dan Media Sosial

Unggahan poster tersebut telah mendapatkan 60.000 suka di platform X. Salah satu pengguna berkomentar, "Semua orang ingin menyelamatkan dunia, tapi tidak ada yang mau membantu ibu mencuci piring," merujuk pada kutipan dari penulis asal Amerika Serikat, PJ O'Rourke. Pengguna lain menambahkan, "Mungkin ada seorang laki-laki di antara orang-orang yang memungut sampah ini, yang memiliki anak kecil di rumah dan meninggalkan istrinya untuk mengasuh mereka demi menonton Piala Dunia."

Kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan di tempat umum merupakan bagian penting dari budaya Jepang. Namun, dalam hal pembagian waktu untuk pekerjaan rumah tangga, laki-laki Jepang menempati peringkat terendah di antara negara-negara dengan ekonomi maju. Menurut data dari Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) pada tahun 2021, perempuan di Jepang menghabiskan lebih dari tiga jam per hari untuk pekerjaan yang tidak dibayar, sementara laki-laki hanya menghabiskan 47 menit.

Beberapa pengguna media sosial juga mengkritik apa yang mereka anggap sebagai kemunafikan dalam tindakan membersihkan sampah di luar negeri, mengingat ruang publik di Jepang sering kali dipenuhi sampah setelah acara besar. Namun, di tengah perdebatan mengenai pembagian tugas rumah tangga, banyak yang berpendapat bahwa kegiatan bersih-bersih stadion yang dilakukan oleh penggemar Jepang seharusnya didorong, bukan dikritik.

"Di mana rasa malunya?" tulis salah satu pengguna X. "Itu jauh lebih baik daripada laporan yang mengatakan 'orang Jepang membuang sampah sembarangan di luar negeri.'

Kegiatan bersih-bersih ini tampaknya juga menginspirasi pendukung dari negara lain yang berpartisipasi dalam Piala Dunia 2026. Sebuah video baru-baru ini menunjukkan penggemar Portugal yang juga mengumpulkan sampah dari tribun dengan kantong plastik besar, dan banyak pengguna media sosial menganggap Jepang sebagai pelopor tren ini.

Artikel Terkait