Sekitar 7.300 tahun yang lalu, pesisir selatan Jepang mengalami letusan gunung berapi yang sangat besar dari dasar laut. Letusan ini termasuk salah satu yang paling kuat selama periode Holosen, yang dimulai sekitar 11.700 tahun yang lalu hingga saat ini. Dikenal sebagai letusan Kikai-Akahoya (K-Ah), peristiwa ini meninggalkan lapisan abu vulkanik yang menyebar ke seluruh wilayah Jepang. Pada saat itu, masyarakat yang tinggal di sepanjang jalur sungai adalah pemburu-pengumpul dari budaya Jomon, yang telah mendiami Kepulauan Jepang selama ribuan tahun.
Survival Masyarakat Jomon Pasca Letusan
Para arkeolog hingga kini masih memperdebatkan bagaimana masyarakat Jomon dapat melanjutkan hidup setelah daerah mereka tertutup abu vulkanik. Letusan ini dianggap sangat dahsyat. "Letusan ini pasti sangat dahsyat, meledak dari dasar laut tanpa peringatan yang berarti. Gempa bumi dahsyat dan tsunami besar menghantam kepulauan Jepang, lalu menyelimuti wilayah tersebut dengan abu vulkanik setebal beberapa meter," ungkap Enrico Crema, salah satu penulis utama studi yang dipublikasikan di Science Advances pada 14 Oktober 2026.
Dalam studi tersebut, para arkeolog terbagi menjadi dua kelompok mengenai nasib masyarakat Jomon. Kelompok pertama berpendapat bahwa masyarakat di pesisir selatan Jepang mengalami kepunahan dan wilayah tersebut menjadi tidak layak huni dalam beberapa generasi. Sementara kelompok kedua meyakini bahwa sebagian dari populasi tersebut berhasil bertahan meskipun tinggal dekat dengan lokasi letusan.
Analisis Data dan Temuan Peneliti
Studi yang dipimpin oleh Enrico Crema dari University of Cambridge dan Peter Jordan dari Lund University ini menggunakan data penanggalan radiokarbon dari berbagai situs arkeologi di seluruh pulau utama Jepang. Dari data tersebut, mereka membuat model statistik untuk menggambarkan perubahan populasi sebelum dan setelah letusan. Model ini membantu peneliti memperkirakan di mana populasi mengalami penurunan, seberapa besar penurunan tersebut, dan berapa lama penurunan itu berlangsung.
Para peneliti juga menggunakan kedalaman endapan vulkanik sebagai indikator tingkat kerusakan lingkungan di setiap lokasi. Dalam hal peninggalan budaya, tembikar Jepang digunakan untuk melacak tren populasi selama berabad-abad, termasuk saat letusan terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kyushu selatan, yang paling dekat dengan pusat letusan, populasi sudah mengalami penurunan jauh sebelum letusan terjadi. Sebaliknya, di Kyushu bagian utara, populasi justru meningkat sebelum letusan dan tren pertumbuhan itu berlanjut hingga kondisi pulih dari bencana.
Crema dan timnya menjelaskan bahwa para penyintas letusan berpindah ke lingkungan pesisir yang pulih lebih cepat dibandingkan dengan daratan. Sumber daya di pesisir, seperti ikan dan kerang, terbukti lebih tahan terhadap gangguan vulkanik dibandingkan ekosistem di darat.
Peneliti juga menemukan bahwa wilayah-wilayah Jepang yang jauh dari titik letusan mengalami stagnasi hingga penurunan populasi setelah bencana. Sebelum letusan, demografi penduduk menunjukkan pertumbuhan. Dugaan tim peneliti adalah bahwa letusan besar tersebut mengubah iklim menjadi lebih dingin dan mengganggu masyarakat yang jauh dari lokasi bencana. Mereka juga menjelaskan perubahan populasi satwa liar seperti babi dan rusa sebagai sumber makanan yang mungkin turut berkontribusi terhadap perubahan tersebut.
"Bahkan dalam situasi yang paling mustahil sekalipun, para penyintas dan komunitas memiliki pilihan, meskipun terbatas. Mereka perlu bertindak dan membuat keputusan, mereka perlu beradaptasi dan berkolaborasi, serta menemukan koneksi dan jaringan sosial baru," jelas Peter Jordan.