Setiap tanggal 28 Oktober, Sumpah Pemuda diikrarkan dalam berbagai peringatan. Menyambut momen penting ini, penting untuk memahami kembali teks Sumpah Pemuda, makna yang terkandung, serta tokoh-tokoh yang berkontribusi dalam perumusannya. Peringatan Hari Sumpah Pemuda ditetapkan sebagai hari nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959, yang ditandatangani pada 16 Desember 1959 oleh Sukarno, presiden Republik Indonesia saat itu, sebagai hari bersejarah bagi bangsa Indonesia.
Teks Sumpah Pemuda
Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, berikut adalah teks Sumpah Pemuda yang dibacakan:
- Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
- Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
- Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Makna Sumpah Pemuda
Dalam buku "Sejarah Sumpah Pemuda: Latar Belakang, Ikrar, dan Maknanya", Museum Sumpah Pemuda menjelaskan bahwa Sumpah Pemuda memiliki makna sebagai berikut:
- Sumpah Pemuda adalah sebuah tekad dan semangat untuk bersatu.
- Sumpah Pemuda mengakhiri ide-ide kesukuan atau provinsialisme.
- Pada tahun 1928, pemuda sudah menyadari pentingnya keberagaman etnis dan agama, serta bahwa hanya dengan persatuan Indonesia dapat meraih kemerdekaan.
- Sumpah Pemuda menjadi langkah awal bagi generasi muda untuk menyatukan langkah dan pandangan dalam kehidupan bermasyarakat, yang menjadi landasan untuk menciptakan kehidupan yang damai dan sejahtera, melintasi batas-batas etnis dan agama.
Tokoh-Tokoh Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda lahir dari Kongres Pemuda Kedua yang berlangsung pada 27-28 Oktober 1928, bertujuan untuk memperkuat rasa persatuan di kalangan pemuda Indonesia. Kongres ini dipimpin oleh perwakilan dari berbagai daerah dan organisasi pemuda. Berikut adalah beberapa tokoh penting dalam kongres tersebut:
- Ketua kongres: Soegondo Djojopoespito dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI)
- Wakil Ketua: RM Djoko Marsaid dari Jong Java
- Sekretaris: Muhammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond
- Bendahara: Amir Sjarifuddin dari Jong Bataks Bond
- Pembantu I: Djohan Mohammad Tjai dari Jong Islamieten Bond
- Pembantu II: R Katjasoengkana dari Pemoeda Indonesia
- Pembantu III: RCL Senduk dari Jong Celebes
- Pembantu IV: Johannes Leimena dari Jong Ambon
- Pembantu V: Mohamad Rocjani Soe'oed dari Pemoeda Kaoem Betawi
Kongres ini melaksanakan tiga rapat. Rapat pertama membahas tentang persatuan dan kesatuan bangsa oleh Mohammad Yamin. Rapat kedua direncanakan membahas pendidikan, yang seharusnya disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara, namun tidak hadir karena kegiatan Taman Siswa. Rapat kedua akhirnya diisi oleh Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro yang membahas pentingnya pendidikan kebangsaan.
Pada rapat ketiga, di antara agenda yang dibahas adalah peran kepanduan dalam membentuk jiwa mandiri dan disiplin yang diperlukan dalam pergerakan. WR Supratman juga membawakan lagu "Indonesia Raya" dengan biola, yang kemudian menjadi lagu kebangsaan pergerakan.