Banjarbaru menjadi tuan rumah Temu Nasional Tahunan XII Forum Komunikasi Ketua Program Studi Teknik Pertambangan Seluruh Indonesia (FORKOPINDO) dan Workshop Mata Kuliah (WMK) yang berlangsung dari 4 hingga 9 September 2026. Kegiatan ini menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor industri untuk memastikan pendidikan pertambangan tetap relevan dengan kebutuhan di lapangan.
Pertemuan ini dihadiri oleh 122 peserta dari 46 perguruan tinggi di berbagai daerah di Indonesia dan menghadirkan praktisi dari sejumlah perusahaan pertambangan, termasuk PT Nusa Halmahera Minerals (NHM). Anas Abdul Latif, Principal Geotechnical NHM, turut berkontribusi sebagai narasumber dalam workshop yang diadakan pada Senin, 7 September 2026. Tema yang diangkat adalah ‘Transformasi Pendidikan Pertambangan: Menjawab Tantangan Ketahanan Energi dan Pengembangan Industri Nasional’.
Peran Forkopindo dalam Pendidikan Pertambangan
Rudy Sayoga Gautama, Dewan Pembina Forkopindo, menekankan pentingnya mengikuti perkembangan industri dan teknologi pertambangan agar pendidikan di bidang ini dapat memenuhi kebutuhan masa depan. Ia menyatakan, “Forkopindo memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia profesional bagi masa depan pertambangan Indonesia. Mari terus memperkuat kolaborasi dan mengikuti perkembangan teknologi serta kebutuhan industri pertambangan.”
Kehadiran NHM dalam acara ini memberikan wawasan langsung mengenai pengalaman industri, terutama dalam pengelolaan tambang bawah tanah. Anas menjelaskan proses pengelolaan tambang bawah tanah yang dilakukan NHM, dimulai dari discovery outcrop di lokasi-lokasi seperti Gosowong, Toguraci, dan Kencana, serta karakteristik operasional masing-masing lokasi.
Pengalaman NHM dalam Pengelolaan Tambang Bawah Tanah
NHM saat ini mengoperasikan dua tambang bawah tanah, yaitu Tambang Bawah Tanah Kencana dan Toguraci, yang masing-masing memiliki tantangan geologi dan teknis yang berbeda. Anas menjelaskan, “Di Kencana, metode underhand cut and fill diterapkan dengan mempertimbangkan karakteristik endapan berkadar tinggi (high grade) serta kondisi batuan samping yang mudah rapuh. Sementara itu, Tambang Bawah Tanah Toguraci menggunakan metode stoping dengan tantangan berupa keberadaan akuifer hidrotermal yang memiliki temperatur sekitar 80 derajat Celcius.”
Selain itu, Anas juga memaparkan siklus penambangan bawah tanah di Gosowong dan strategi pengangkutan bijih emas berdasarkan tingkat prioritas. Material yang menjadi prioritas utama diangkut langsung menuju Rompad, sedangkan material dengan prioritas lebih rendah dikelola melalui proses rehandle. Pembelajaran teknis ini tidak hanya bermanfaat bagi praktisi pertambangan, tetapi juga memberikan gambaran nyata bagi akademisi dan mahasiswa mengenai penerapan konsep yang dipelajari di kelas dalam situasi operasional.
Denny Lesmana, GM Geology Resources & Support NHM, menambahkan bahwa industri pertambangan di masa depan akan terus memerlukan inovasi dan ide-ide baru untuk menghadapi tantangan yang ada. “Berbagi praktik industri diharapkan tidak hanya memberikan gambaran mengenai penerapan di lapangan, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu dan semangat belajar di kalangan mahasiswa sebagai calon generasi penerus industri pertambangan,” ujarnya.
Dengan tantangan yang terus berkembang, kontribusi dari riset, inovasi, dan pengembangan pengetahuan dari dunia akademis menjadi semakin penting. Momentum ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun kolaborasi yang lebih luas antara akademisi dan industri dalam mendukung kemajuan pertambangan Indonesia yang aman dan berkelanjutan.