Fakta Pendidikan

Mengapa Beberapa Orang Kesulitan Bersiul? Ini Penjelasannya

Sebuah video yang diunggah di YouTube menunjukkan bahwa hampir separuh dari 100 orang yang diuji tidak mampu bersiul dengan benar. Para ahli menjelaskan bahwa faktor anatomi dan latihan berperan penti...

P
Panca Akbar Saputra
23 October 2026
18 pembaca
Ilustrasi bersiul Foto: Francisco Ruiz/Illinois Institute of Technology
Ilustrasi bersiul Foto: Francisco Ruiz/Illinois Institute of Technology

Jakarta - Dalam sebuah video YouTube yang direkam pada tahun 2019, sebanyak 100 orang dipilih secara acak untuk mencoba bersiul di depan kamera. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar setengah dari peserta tidak dapat melakukannya. Beberapa di antaranya bahkan hanya menghasilkan suara yang tidak menyerupai siulan sama sekali. Namun, menariknya, peserta yang berhasil bersiul menunjukkan posisi mulut yang serupa, dengan kedua sudut bibir sedikit tertarik ke samping dan terdapat lubang kecil berbentuk bulat di tengah bibir, berbeda dengan bentuk umum mulut yang membulat lebar saat bersiul.

Jika posisi mulut berperan penting dalam bersiul, mengapa ada orang yang dapat melakukannya dengan mudah sementara yang lain terus mengalami kesulitan meskipun telah mencoba berkali-kali?

Penyebab Kesulitan Bersiul

Francisco Ruiz, seorang profesor teknik mesin di Illinois Institute of Technology yang meneliti akustik siulan, menyatakan bahwa ketidakmampuan bersiul karena faktor anatomi tergolong jarang. Untuk sebagian besar orang, kunci keberhasilan bersiul terletak pada latihan. "Ibaratnya seperti belajar mengendarai sepeda. Kita akan berkali-kali jatuh, sampai akhirnya bisa," ujarnya.

Walaupun banyak orang dapat mempelajari keterampilan ini, ada kondisi fisik tertentu yang dapat membuat seseorang sangat sulit atau bahkan tidak mampu bersiul. Salah satu contohnya adalah cleft palate atau celah langit-langit, yaitu kelainan bawaan di mana langit-langit mulut tidak menutup dengan sempurna. Menurut Ruiz, untuk menghasilkan siulan, diperlukan koordinasi yang tepat antara bentuk bibir dan posisi lidah terhadap langit-langit mulut. Keduanya harus membentuk celah dengan ukuran dan posisi tertentu agar aliran udara dapat menghasilkan suara. Pada orang yang memiliki celah langit-langit, struktur mulut yang berbeda dapat menghambat terbentuknya penyempitan saluran udara yang diperlukan untuk bersiul.

"Kita perlu mendapatkan geometri bibir yang tepat, kemudian mengatur posisi lidah terhadap langit-langit mulut. Jika seseorang memiliki celah langit-langit, mereka mungkin tidak bisa bersiul karena tidak dapat membentuk penyempitan saluran udara dengan benar," jelas Ruiz.

Proses Akustik dalam Bersiul

Bersiul melibatkan proses akustik yang cukup menarik. Berbeda dengan berbicara atau bernyanyi, aktivitas ini tidak bergantung pada getaran pita suara sebagai sumber bunyi. Saat berbicara, pita suara di tenggorokan bergetar untuk menghasilkan suara, sedangkan saat bersiul, pita suara tetap terbuka dan tidak menjadi sumber bunyi utama. Suara terbentuk melalui aliran udara yang melewati rongga mulut.

Proses ini dimulai ketika bibir membentuk lubang kecil di bagian depan mulut, sementara bagian belakang lidah terangkat mendekati langit-langit mulut, menciptakan celah sempit lainnya. Kedua celah tersebut membantu mengatur aliran udara. Gangguan kecil yang terjadi saat udara melewati bagian-bagian ini berinteraksi dengan tekanan udara di dalam rongga mulut, menciptakan umpan balik akustik yang menghasilkan suara siulan yang stabil.

Proses ini berlangsung sangat cepat, dengan interaksi yang terjadi ratusan kali per detik. Ketika posisi bibir, lidah, dan aliran udara berada dalam kondisi yang tepat, suara siulan pun terbentuk. Prinsipnya mirip dengan meniup bagian atas botol untuk menghasilkan bunyi, di mana suara muncul akibat resonansi udara di dalam rongga botol.

Prashanth Tamilselvam, seorang peneliti yang bekerja bersama Ruiz, menambahkan bahwa embusan udara yang terlalu lemah tidak cukup untuk menghasilkan suara, sementara meniup terlalu keras juga dapat menyebabkan siulan gagal terbentuk. "Ada titik yang tepat ketika siulan bisa dihasilkan," ujarnya. Kemampuan bersiul bergantung pada kombinasi beberapa faktor, mulai dari bentuk bibir, posisi lidah, hingga tekanan udara yang diembuskan. Seseorang perlu menemukan kombinasi yang tepat melalui latihan.

Untuk membantu orang yang kesulitan bersiul, Ruiz mengembangkan alat kecil bernama Flutino, yang dirancang untuk membantu membentuk posisi bibir yang diperlukan saat bersiul. Alat ini dibuat menggunakan teknologi pencetakan tiga dimensi dan berukuran lebih kecil dari koin seperempat dolar Amerika Serikat. "Alat ini menggantikan fungsi bibir. Letakkan di antara bibir, lalu tiup. Perangkat tersebut membantu membentuk posisi yang mungkin belum bisa dilakukan mulut dengan benar secara alami," kata Ruiz.

Flutino dapat digunakan untuk menghasilkan siulan baik dengan mengembuskan maupun mengisap udara. Ide pengembangan alat ini muncul selama pandemi, dan setelah beberapa prototipe, desain saat ini berhasil dibuat. Dalam pengujian, Flutino mampu menghasilkan siulan dengan tingkat kebisingan hingga 100 desibel, yang cukup keras untuk mengejutkan pendengar.

Saat ini, Flutino masih dalam proses pengajuan paten dan belum tersedia untuk dibeli. Namun, Ruiz mulai menjajaki kemungkinan penggunaannya sebagai alat bantu untuk mengajarkan teknik bersiul. Salah satu kelompok mahasiswa di University of California, Los Angeles (UCLA), yang menamakan diri Whistling Club, sedang menguji apakah perangkat tersebut dapat membantu orang yang sebelumnya kesulitan bersiul untuk mempelajarinya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait