Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan keberadaan siklon tropis Champi yang terletak sekitar 1.890 kilometer di utara Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdani, menyatakan bahwa meskipun siklon ini bergerak menjauhi Indonesia, sirkulasinya masih dapat mempengaruhi kondisi atmosfer di beberapa wilayah Indonesia.
Apa Itu Siklon Champi?
Siklon tropis Champi merupakan perkembangan dari bibit siklon tropis 96W yang mencapai status siklon tropis pada 15 Oktober 2026 pukul 19.00 WIB, di luar wilayah Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta. Menurut laporan resmi BMKG, siklon ini mulai masuk ke dalam wilayah monitoring TCWC Jakarta pada 19 Oktober 2026 pukul 01.00 WIB. Dalam bahasa Laos, nama Champi berarti bunga lilin yang memiliki aroma manis.
Benarkah Siklon Champi Sedot Asap Karhutla?
Andri Ramdani menjelaskan bahwa siklon Champi tidak secara langsung mempengaruhi arah sebaran asap karhutla. Namun, sirkulasi dari siklon ini bisa berpengaruh terhadap kondisi atmosfer di beberapa daerah di Indonesia. "Secara meteorologis, Siklon Tropis Champi tidak menyedot asap karhutla atau secara langsung mengubah arah sebarannya," ungkapnya.
Dampak Siklon Champi untuk Indonesia
Meskipun siklon Champi saat ini bergerak menjauh, cuaca di Indonesia tetap dapat terpengaruh. Andri menyebutkan bahwa salah satu dampak dari Champi adalah potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di beberapa wilayah yang terdampak karhutla. Hujan ini dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel asap di udara. "Pengaruh tidak langsung tersebut antara lain berupa hujan sedang hingga lebat di Kalimantan Utara, Kalimantan Barat bagian utara, dan Kepulauan Riau bagian utara," jelasnya.
Ia juga menambahkan, "Jadi, pengaruh Champi terhadap asap bukan melalui tarikan angin secara langsung, melainkan melalui kondisi cuaca, termasuk hujan yang dapat membantu mengurangi partikel asap di udara. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG."
Menurut laporan dari The New York Times, siklon Champi merupakan badai terkuat pada tahun 2026 dengan kecepatan angin maksimum mencapai hampir 185 mil per jam. BMKG mengklasifikasikan Champi dalam kategori 4 dan diperkirakan kekuatannya akan melemah, dengan pergerakannya tetap menjauhi Indonesia. Siklon tropis dibagi ke dalam lima kategori, di mana kategori 1 adalah yang terendah dan kategori 5 adalah yang tertinggi.