Fakta Pendidikan

Mengenal Sistem Penilaian TKA dengan IRT: Karakteristik dan Pembobotan

Menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada akhir Oktober, penting untuk memahami sistem penilaian yang digunakan agar strategi belajar dapat lebih efektif. TKA menerapkan metode Item Resp...

N
Naufal Akbar
12 October 2026
20 pembaca
Suasana hari pertama pelaksanaan TKA SD di Kabupaten Ciamis. Siswa SDN 7 Ciamis melaksanakan TKA di SMPN 2 Ciamis. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar
Suasana hari pertama pelaksanaan TKA SD di Kabupaten Ciamis. Siswa SDN 7 Ciamis melaksanakan TKA di SMPN 2 Ciamis. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Jakarta - Menyusul pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang akan dimulai pada akhir bulan Oktober, penting bagi peserta untuk memahami sistem penilaian yang diterapkan. Dengan pemahaman ini, diharapkan peserta dapat merencanakan strategi belajar yang lebih tepat.

TKA menggunakan metode evaluasi yang dikenal sebagai Item Response Theory Two-parameter Logistic Model (IRT 2PL). Metode ini bertujuan untuk memastikan bahwa asesmen yang dilakukan secara nasional dapat berlangsung dengan adil, objektif, dan setara. IRT telah lama digunakan dalam berbagai asesmen internasional, seperti Trends in Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Programme for International Student Assessment (PISA). Dengan pendekatan ini, kemampuan peserta dan tingkat kesulitan soal dapat diukur dalam satu skala yang sama, sehingga hasil dari berbagai paket soal dan daerah dapat disetarakan secara adil.

Karakteristik Sistem Penilaian IRT

Dalam penerapan IRT 2PL, setiap soal dinilai berdasarkan bobot tantangannya, sehingga tidak ada peserta yang dirugikan oleh variasi dalam paket soal yang diberikan. Hasil dari TKA SMA akan dilaporkan dalam bentuk skor dengan skala 200-800. Menurut informasi dari Pusat Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Pusmendik Kemendikdasmen), metode IRT 2PL mempertimbangkan dua parameter utama dari setiap soal, yaitu:

  • Tingkat kesulitan: Mengukur seberapa menantang suatu soal untuk dijawab dengan benar.
  • Daya pembeda: Mengukur seberapa efektif soal dalam membedakan siswa yang benar-benar kompeten dari yang belum menguasai materi.

Perbedaan Skor Meski Jumlah Jawaban Benar Sama

Perlu dicatat bahwa dalam sistem penilaian IRT, jumlah jawaban yang benar bisa sama, tetapi skor yang diperoleh bisa berbeda. Contohnya, siswa A menjawab 15 soal dengan tingkat kesulitan yang tinggi, sehingga diperkirakan memiliki kemampuan yang lebih baik. Sementara itu, siswa B juga menjawab 15 soal, tetapi soal yang dikerjakan lebih banyak yang bersifat dasar, sehingga kemampuannya diperkirakan berada pada tingkat rata-rata.

Dalam penilaian menggunakan IRT, setiap soal memiliki bobot tantangannya sendiri. Metode ini memperhitungkan karakteristik unik dari setiap soal, sehingga sangat sesuai untuk asesmen berskala besar, di mana peserta yang mendapatkan paket soal yang lebih sulit tidak akan dirugikan.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait