Fakta Pendidikan

Menggali Potensi Lahan Gambut Selain Penyebab Kebakaran Hutan

Lahan gambut sering kali dianggap sebagai penyebab utama kebakaran hutan di Indonesia. Namun, dalam sebuah diskusi, para ahli mengungkapkan bahwa lahan gambut juga memiliki banyak manfaat yang dapat d...

S
Stevani Nila Wardana
06 October 2026
35 pembaca
Potret Lahan Gambut. (Foto: ANTARA FOTO/WAHDI SEPTIAWAN)
Potret Lahan Gambut. (Foto: ANTARA FOTO/WAHDI SEPTIAWAN)

Jakarta - Lahan gambut di Indonesia sering kali diasosiasikan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi secara berulang. Namun, muncul pertanyaan apakah ekosistem gambut hanya membawa masalah dan bencana. Pertanyaan ini terungkap dalam diskusi yang bertajuk Media Lounge Discussions: Sains di Balik Karhutla Gambut dan Teknologi Pencegahannya, yang berlangsung di Gedung BJ Habibie BRIN, Jalan MH Thamrin, Jakarta, pada Selasa (6/10).

Dr. Dony Rachmanadi, Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Ekologi BRIN, menyatakan bahwa gambut seharusnya tidak hanya dilihat dari sudut pandang bencana. Ia berpendapat bahwa setiap ekosistem memiliki manfaat yang bisa dimanfaatkan jika dikelola dengan baik. "Enggak ada sesuatu itu enggak ada manfaatnya, dan itu semua adalah berkah," ujarnya.

Fungsi Ekologis dan Potensi Ekonomi Lahan Gambut

Dony menilai bahwa pandangan negatif terhadap gambut muncul akibat kebakaran yang sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Padahal, lahan gambut memiliki banyak fungsi ekologis serta potensi ekonomi, salah satunya terkait dengan perdagangan karbon. Ia menjelaskan bahwa mekanisme perdagangan karbon sudah mulai diterapkan di beberapa daerah yang memiliki ekosistem gambut. "Salah satu contohnya sekarang ada mekanisme perdagangan karbon. Di Kalteng ada, di Sumatera juga ada," jelasnya.

Lahan gambut diketahui dapat menyimpan hingga 30% karbon global, yang sangat bermanfaat untuk perdagangan karbon yang baru-baru ini diperkenalkan.

Keanekaragaman Hayati dan Manfaat Kesehatan

Selain berfungsi sebagai penyimpan karbon, lahan gambut juga menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk di bidang kesehatan. Dony memberikan contoh tanaman akar kuning yang tumbuh di ekosistem gambut, yang diketahui memiliki potensi sebagai bahan obat, salah satunya untuk pengobatan hepatitis. Ia menekankan bahwa kandungan zat aktif dari tanaman yang tumbuh di kawasan gambut dapat memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika berhasil dikembangkan melalui penelitian. "Kalau kita bisa mengelola satu aja dari zat aktif, itu kan harganya mahal sekali. Nah itu bisa bermanfaat baik untuk semua, apalagi bidang kesehatan. Banyak obat-obat yang didapatkan dari situ," tuturnya.

Di sisi lain, potensi lahan gambut harus diimbangi dengan upaya menjaga ekosistemnya, termasuk pencegahan kebakaran yang dapat merusak fungsi ekologis dan ekonomi gambut. Dony menambahkan bahwa BRIN terus melakukan penelitian terkait ekosistem gambut, termasuk mendukung upaya pencegahan kebakaran di masa mendatang. "Mudah-mudahan sejalan itu kita juga bisa mengendalikan bencana yang terjadi," harapnya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait