Fakta Pendidikan

Mengungkap Keterkaitan Antara Penggunaan AI dan Ketersediaan Air

Diskusi mengenai pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) yang berlokasi di bendungan air semakin marak, menimbulkan pertanyaan tentang hubungan antara konsumsi air dan operasional AI.

N
Narayana Putra
31 October 2026
6 pembaca
Foto: REUTERS/Eric Cox/data center ai meta.
Foto: REUTERS/Eric Cox/data center ai meta.

Jakarta - Belakangan ini, banyak perhatian tertuju pada pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) yang ditempatkan di lokasi seperti bendungan air. Infrastruktur ini memerlukan pasokan listrik dan sumber daya air dalam jumlah yang cukup besar untuk berfungsi secara optimal. Lalu, mengapa AI memerlukan air?

Dosen Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan di Universitas Airlangga, Yutika Amelia Effendi SKom MKom PhD, menjelaskan bahwa terdapat tiga jalur utama yang menghubungkan konsumsi air bersih dengan pusat data AI. "Hubungan antara pusat data dan konsumsi air terjadi melalui tiga jalur utama yakni penggunaan air langsung untuk sistem pendinginan, penggunaan tidak langsung melalui pembangkitan listrik, serta air yang digunakan dalam rantai pasok manufaktur perangkat keras," ungkap Yutika.

Pusat Data AI dan Suhu Panas yang Dihasilkan

Yutika menjelaskan bahwa perangkat yang digunakan dalam operasional AI, seperti server, prosesor, dan GPU, menghasilkan suhu yang sangat tinggi. Oleh karena itu, panas tersebut perlu dibuang secara terus-menerus agar sistem AI tetap berfungsi dengan baik. Air dipilih sebagai salah satu media pendingin pusat data karena kemampuannya yang tinggi dalam menyerap panas, sehingga efektif dalam menurunkan suhu.

"Dampaknya sangat bervariasi bergantung pada lokasi, teknologi pendinginan, dan kondisi sumber daya air setempat. Kebutuhan dasar masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama dalam pengelolaan air," tambahnya.

Kekhawatiran Terkait Ketersediaan Air Bersih

Pembangunan pusat data AI di Indonesia menimbulkan kekhawatiran, terutama di daerah yang masih mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih. Yutika menekankan pentingnya pengaturan skala prioritas kebutuhan dasar terhadap ketersediaan air bersih. Selain itu, kajian mengenai daya dukung lingkungan juga diperlukan dalam perencanaan pembangunan infrastruktur pusat data.

Ia juga mengusulkan beberapa solusi alternatif untuk mengurangi konsumsi air bersih di pusat data, seperti optimasi model komputasi, penerapan teknologi pendinginan closed-loop atau direct-to-chip liquid cooling, penggunaan air daur ulang (non-potable), serta pemilihan lokasi yang tepat untuk fasilitas tersebut. "Pemerintah dapat mendorong standar efisiensi, sementara perguruan tinggi seperti Unair dapat berperan melalui riset lintas bidang. AI bukan hanya teknologi yang terkendali dampaknya, namun juga dapat menjadi bagian dari solusi pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan," tuturnya.

Secara keseluruhan, penggunaan AI harus didasari oleh kesadaran masyarakat agar dapat dimanfaatkan dengan bijak dan optimal.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait