Jakarta - Umumnya, pada usia 21 tahun, banyak orang yang masih berada di tahap pendidikan sarjana atau baru saja menyelesaikannya. Namun, Andi Safa Afianzar justru telah meraih gelar magister (S2) pada usia tersebut. Pria yang lebih dikenal dengan nama Andi ini baru saja diwisuda pada Agustus 2026 dan dinobatkan sebagai wisudawan termuda di ITB.
Strategi Akselerasi Pendidikan
Andi berhasil menyelesaikan pendidikan magisternya di usia muda berkat program akselerasi yang diikutinya sejak sekolah dasar. Selama menjalani pendidikan dari SD hingga SMA, ia terus mengikuti program akselerasi, sehingga waktu pendidikannya menjadi lebih singkat. Di jenjang perguruan tinggi, Andi mengambil jalur fast track untuk S1 dan S2 dengan dukungan beasiswa Ganesha Talent Assistantship (GTA).
“Saya ingin berterima kasih kepada Beasiswa Unggulan dan Ganesha Talent Assistantship, kepada rekan-rekan saya baik ketika S1 (HIMAFI) maupun S2, serta dosen pembimbing saya Prof Dr rer nat Bobby Eka Gunara, S Si, M Si. Terima kasih juga saya sampaikan kepada Kaprodi S2, Dr Fiki Taufik Akbar Sobar, S Si, M Si, dan Kaprodi S1, Dr Agus Suroso, S Si, M Si,” ungkapnya.
Menyesuaikan Diri dengan Lingkungan
Meskipun memiliki banyak keuntungan, Andi harus beradaptasi dengan baik karena usianya yang relatif muda dibandingkan mahasiswa lainnya. Ia bergaul dengan teman-teman seangkatan yang lebih tua, dan alih-alih merasa terasing, Andi menjadikan pengalaman ini sebagai kesempatan untuk membuka diri dan membangun relasi. Ia pun terbiasa berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai latar belakang.
Disiplin ilmu yang dipelajari Andi berfokus pada fisika, tetapi selama menempuh S2 di ITB, ia juga tertarik pada bidang matematika. Saat mendalami fisika teoritis untuk tugas akhirnya, Andi menemukan hubungan erat antara riset yang dikerjakannya dengan konsep matematika murni, yang kemudian mendorongnya untuk mengeksplorasi bidang tersebut lebih dalam.
Andi sangat berterima kasih kepada dosen pembimbingnya, Prof Dr rer nat Bobby Eka Gunara, S Si, M Si, yang selalu mengingatkan bahwa nilai seseorang tidak hanya ditentukan oleh gelar dan penghargaan.
“Seseorang itu dinilai berdasarkan karyanya, bukan predikatnya,” pesan Prof Bobby yang selalu diingat Andi. Pesan ini membuat Andi bertekad untuk tidak hanya menilai dirinya dari predikat atau penghargaan yang diraih, tetapi juga berusaha menghasilkan karya yang bermanfaat bagi banyak orang.
Andi mempersembahkan gelar dan pencapaiannya kepada orang tuanya, menjadikannya sebagai motivasi untuk terus berprestasi di masa depan.