Jalan aspal yang mengalami kerusakan seperti berlubang dapat ditemukan di berbagai lokasi. Salah satu penyebab utama kerusakan ini adalah beban kendaraan, terutama di jalan yang sering dilalui oleh kendaraan besar seperti truk dan bus. Namun, apa saja faktor lain yang mempengaruhi ketahanan aspal?
Kondisi Tanah dan Drainase yang Buruk
Menurut Dr. Catur Arif Prastyanto ST MEng, seorang pakar infrastruktur jalan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), kerusakan pada aspal dapat disebabkan oleh beberapa masalah mendasar. Salah satunya adalah ketidakstabilan badan jalan atau tanah dasar (subgrade) yang berfungsi sebagai fondasi perkerasan. "Kondisi tanah yang tidak stabil dapat memengaruhi kemampuan jalan dalam menahan beban kendaraan," ujarnya.
Faktor lain yang juga berkontribusi adalah adanya air yang terjebak dalam struktur perkerasan jalan. Meskipun aspal bersifat hidrofobik, perkerasan jalan terdiri dari beberapa lapisan berpori kecil yang memungkinkan air masuk. Jika sistem drainase tidak berfungsi dengan baik, air dapat masuk melalui retakan halus atau celah konstruksi dan terperangkap di dalam struktur perkerasan. Berdasarkan informasi dari Bina Marga PU, air merupakan salah satu faktor utama yang merusak aspal. Genangan air pada permukaan aspal dapat melemahkan ikatan antara aspal dan bahan pengikat lainnya, sehingga mempercepat timbulnya retakan atau lubang di jalan.
Dampak Kendaraan Berlebih
Dr. Catur juga menekankan bahwa kendaraan dengan muatan berlebih, terutama yang dikenal sebagai kendaraan ODOL (Over Dimension Overload), dapat menyebabkan kerusakan pada aspal. Setiap jalan dirancang untuk menahan beban standar, sehingga saat dilalui oleh kendaraan yang melebihi batas, jalan berisiko mengalami kerusakan lebih cepat. Selain itu, pemilihan material aspal yang tidak sesuai spesifikasi dan pelaksanaan konstruksi yang tidak mengikuti standar juga dapat berkontribusi terhadap kerusakan dini pada jalan beraspal.
Untuk menjaga agar aspal tetap awet, akses jalan yang baik sangat penting. Kerusakan pada jalan dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari dan ekonomi masyarakat setempat. Menurut Dr. Catur, ada tiga faktor penting yang perlu diperhatikan dalam menjaga kualitas aspal agar tidak mudah rusak. Ketiga faktor tersebut adalah stabilitas badan jalan dan subgrade, sistem drainase yang baik, serta penegakan kebijakan terhadap kendaraan ODOL (No ODOL Vehicle). "Pemenuhan kriteria tersebut meminimalkan risiko kerusakan dini sehingga kualitas dan daya tahan infrastruktur jalan dapat terjaga dalam jangka panjang," jelasnya.
Stabilitas badan jalan dan tanah merupakan hal yang paling penting karena struktur tersebut menanggung seluruh beban lalu lintas yang diteruskan dari lapisan di atasnya, yaitu aspal. Dengan sistem drainase yang baik, air tidak akan mudah masuk ke celah pori tanah dan menyebabkan penurunan muka tanah. Kementerian PUPR juga memiliki manual desain perkerasan jalan yang harus dipatuhi saat membangun jalan, termasuk pembahasan mengenai sistem drainase yang baik dan desain fondasi yang sesuai.
Masalah lain yang masih menjadi tantangan adalah kendaraan ODOL. Pemerintah telah merumuskan kebijakan Zero ODOL yang diterapkan di dua wilayah percontohan, yaitu Provinsi Riau dan Jawa Barat. Namun, implementasi kebijakan ini masih mengalami kendala dari tahun 2023 hingga 2026, salah satunya disebabkan oleh ketergantungan pelaku usaha pada kendaraan tersebut untuk menekan biaya distribusi. Kebijakan ini terus diundur selama lebih dari tiga tahun untuk memberikan waktu adaptasi kepada pelaku usaha.