Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan isu yang mendesak untuk ditangani oleh pemerintah. Dampak negatifnya tidak hanya dirasakan oleh manusia dan tumbuhan, tetapi juga hewan yang hidup di kawasan hutan yang terbakar. Prof Dr drh Raden Wisnu Nurcahyo, seorang Guru Besar dari Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), menegaskan bahwa karhutla menyebabkan satwa kehilangan tempat tinggal. Selain itu, mereka juga kehilangan sumber makanan dan tempat berlindung.
Karhutla mengakibatkan hilangnya tumbuhan yang esensial bagi kehidupan satwa, termasuk dalam perilaku pengobatan mandiri atau self-medicated animal behavior. Banyak satwa ditemukan dalam keadaan terluka akibat bara api yang tersisa di permukaan tanah. Tragisnya, beberapa di antaranya diduga mati tanpa terdeteksi, terutama jika mereka berada di bagian hutan yang sulit dijangkau oleh petugas.
Proses Pemulihan Hutan Pasca Kebakaran
Kerusakan habitat akibat kebakaran ini dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah baru. Satwa yang berusaha bertahan hidup mungkin akan berpindah ke area yang lebih aman, termasuk dekat dengan permukiman manusia. Akibatnya, mereka bisa memasuki lahan pertanian atau kawasan permukiman untuk mencari makanan, yang berpotensi meningkatkan konflik antara satwa liar dan masyarakat.
Wisnu mengingatkan bahwa pemulihan hutan setelah terjadinya kebakaran tidak hanya sekadar menanam kembali pohon. Ia menekankan pentingnya restorasi habitat yang mempertimbangkan ekosistem serta kebutuhan ekologis satwa yang ada di dalamnya. Dengan demikian, penyediaan tumbuhan yang menjadi pakan bagi satwa perlu menjadi perhatian. Selain itu, pemerintah harus melibatkan masyarakat sekitar hutan dan pelaku usaha yang memanfaatkan lahan untuk mencegah terjadinya karhutla.
"Edukasi dan pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, pertambangan, dan perkebunan menjadi bagian penting untuk menekan risiko kebakaran sekaligus melindungi keanekaragaman hayati," ungkapnya.
Masalah Karhutla yang Terus Berulang
Masih merujuk pada sumber yang sama, Prof Dr Ir Ris Hadi Purwanto, seorang Guru Besar di bidang Ilmu Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan UGM, menyatakan bahwa karhutla adalah masalah yang terus berulang. Terdapat tiga unsur utama yang dapat menyebabkan karhutla, yaitu sumber api, bahan bakar vegetasi atau material organik, dan kondisi iklim. Ia juga menjelaskan bahwa kebakaran sering kali dipicu oleh kelalaian manusia, seperti aktivitas pembukaan lahan yang tidak terkontrol.
"Di Indonesia, yang sering terjadi adalah hal tersebut," ujarnya. Pembakaran lahan sering kali dijadikan cara cepat untuk mengurangi biaya pembukaan lahan. Namun, jika tidak dilakukan dengan pengendalian yang baik, api dapat menyebar dan menyebabkan kebakaran yang meluas.
Masalah karhutla terus berlanjut dari tahun 2015 hingga 2026. Luas kumulatif kebakaran hutan selama periode tersebut mencapai sekitar 8,35 juta hektare. Kebakaran terbesar terjadi pada tahun 2015 dengan luas mencapai 2,61 juta hektare, diikuti oleh 2019 seluas 1,65 juta hektare dan 2023 seluas 1,16 juta hektare. Data ini menunjukkan bahwa karhutla merupakan persoalan yang berulang dan memerlukan kesiapsiagaan yang berkelanjutan.
Ris menekankan bahwa upaya penanganan karhutla tidak hanya harus diperkuat saat kebakaran sudah terjadi. Kesiapsiagaan seharusnya dibangun secara konsisten dengan mempertimbangkan perubahan iklim dan potensi kebakaran di berbagai wilayah. "Jangan sampai mendirikan badan atau balai untuk menangani karhutla itu bersifat reaktif. Misalnya, jika ada kebakaran baru dibuat, jika tidak, tidak usah," tegasnya.