Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sedang melanjutkan proyek pembangunan 93 unit sekolah rakyat di berbagai lokasi di Indonesia pada tahap kedua yang direncanakan hingga tahun 2026. Proyek ini bertujuan untuk memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak yang berasal dari keluarga miskin dan sangat miskin.
Menteri PU Dody Hanggodo mengungkapkan bahwa pihaknya akan mengawasi secara langsung proses pembangunan untuk memastikan bahwa semua fasilitas seperti ruang kelas, asrama, laboratorium, fasilitas kesehatan, lapangan olahraga, dan sarana pendukung lainnya dibangun dengan layak dan aman bagi para siswa. Dia menekankan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat harus dilakukan dengan baik dan memperhatikan kelayakan seluruh fasilitas.
"Kami ingin memastikan anak-anak mendapatkan lingkungan belajar dan tempat tinggal yang mendukung mereka untuk belajar, berkembang, serta meraih masa depan yang lebih baik," ungkap Dody dalam siaran pers yang dirilis pada hari Sabtu (10/10).
Konsep Pendidikan Berasrama
Program Sekolah Rakyat dirancang dengan pendekatan pendidikan berasrama (boarding school). Dengan konsep ini, para peserta didik tidak hanya mengikuti kegiatan belajar-mengajar formal, tetapi juga mendapatkan pemenuhan kebutuhan hidup pokok secara menyeluruh. "Di Sekolah Rakyat, anak-anak memperoleh pendidikan, tempat tinggal, makanan, pendampingan, dan pembinaan dalam sistem berasrama," tambahnya.
Pemenuhan kebutuhan dasar ini bertujuan agar siswa dapat fokus dalam mengembangkan potensi akademik, membentuk karakter, dan merencanakan masa depan tanpa terbebani oleh masalah ekonomi keluarga.
Langkah Strategis dalam Pendidikan
Penyediaan infrastruktur untuk 93 unit sekolah ini merupakan langkah nyata dalam melaksanakan agenda strategis Presiden Prabowo Subianto di bidang pendidikan dan pengentasan masalah sosial. "Pembangunan ini menjadi bagian dari visi Presiden Prabowo Subianto untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan," tutup Dody.