Fakta Pendidikan

Penelitian Terbaru Mengenai Gundukan Diduga Bahtera Nuh di Turki

Dugaan mengenai lokasi Bahtera Nuh terus menjadi perdebatan, terutama seputar gundukan berbentuk kapal di dekat Gunung Ararat, Turki, yang saat ini sedang diteliti lebih lanjut oleh tim peneliti.

A
Amara Rukmana
27 September 2026
43 pembaca
Pengeboran gunung yang dipercaya lokasi akhir dari Bahtera Nuh di Turki. Foto: (Lauren E Witzke/Facebook)
Pengeboran gunung yang dipercaya lokasi akhir dari Bahtera Nuh di Turki. Foto: (Lauren E Witzke/Facebook)

Lokasi yang diduga sebagai Bahtera Nuh masih menjadi bahan spekulasi di kalangan ilmuwan dan peneliti. Saat ini, perhatian tertuju pada sebuah gundukan besar yang menyerupai kapal di dekat Gunung Ararat, Turki. Tim peneliti telah memulai proses pengeboran di formasi yang dikenal sebagai situs Durupinar, berharap dapat menemukan bukti yang menjelaskan misteri ini.

Lauren Witzke, Direktur Pemasaran dan Penggalangan Dana Proyek Noah's Ark Scans, mengungkapkan bahwa ekspedisi ini telah mendapatkan izin dari pemerintah Turki serta pengawasan dari universitas lokal. "Setelah kita selesai, kurikulum universitas perlu ditulis ulang, dan Darwinisme akan dibongkar," jelasnya, seperti yang dilansir dari New York Post.

Sejarah Penemuan Gundukan

Struktur yang diduga sebagai Bahtera Nuh ini telah menjadi objek penelitian selama bertahun-tahun. Formasi Durupinar pertama kali ditemukan pada tahun 1959 oleh seorang kapten Angkatan Darat Turki yang mengambil foto udara saat memetakan area tersebut. Peneliti lokal melakukan survei dan penggalian, tetapi tidak menemukan bukti arkeologis, sehingga mereka menyimpulkan bahwa formasi tersebut adalah anomali alami.

Beberapa geolog modern berpendapat bahwa situs tersebut adalah punggung bukit berbentuk perahu yang terbentuk dari batu kapur dan tanah liat vulkanik akibat proses erosi. Setelah penyelidikan awal, struktur ini terpendam hingga tahun 1980-an, ketika David Fasold, seorang ahli penyelamatan asal Amerika, menggunakan radar penembus tanah untuk memeriksa situs tersebut. Ia meyakini bahwa ia menemukan sisa-sisa fosil dek atas kapal dengan panjang 164 meter, yang mendekati ukuran bahtera yang disebutkan dalam Kitab Kejadian, yaitu 300 hasta (157 meter).

Ekspedisi Terkini dan Teknologi yang Digunakan

Dalam beberapa tahun terakhir, lokasi ini kembali diteliti menggunakan radar penembus tanah. Ekspedisi Noah's Ark Scans mengklaim telah memetakan bagian yang menyerupai koridor dan ruang di bawah permukaan, termasuk satu lorong yang panjangnya lebih dari 250 kaki. Mereka berencana untuk mengebor celah sempit ke dalam ruang-ruang tersebut dan mengirimkan Gopher, sebuah robot bawah tanah yang dirancang untuk menjelajahi area yang tidak dapat dijangkau manusia.

Gopher dilengkapi dengan alat untuk mengumpulkan rekaman beresolusi tinggi dan sampel tanah. Dr Robert Ross dari Universitas La Trobe, yang merancang robot tersebut, mengatakan, "Robot ini pada dasarnya dimodifikasi berdasarkan robot yang awalnya saya buat untuk ahli ekologi satwa liar." Proyek ini membutuhkan dana sebesar 600.000 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 10,75 miliar untuk memulai pengeboran. Namun, video yang dibagikan oleh Witzke menunjukkan bahwa pengeboran tampaknya telah dimulai.

Ekspedisi ini kini harus bekerja cepat sebelum datangnya musim dingin, yang dapat membekukan tanah dan menghentikan penelitian hingga tahun depan.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait