Jakarta - Citra satelit yang dihasilkan oleh NASA's Eyes on the Earth menunjukkan distribusi gas karbon monoksida (CO) di atmosfer Indonesia, yang mencakup wilayah dari Sumatera hingga Papua. Gas ini dapat memiliki dampak serius, terutama terkait dengan kesehatan manusia.
Karbon monoksida adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau, yang dihasilkan melalui proses pembakaran yang tidak sempurna. Sumber utama gas ini termasuk kebakaran hutan dan lahan, emisi dari kendaraan bermotor, serta aktivitas industri. Selain itu, gas ini juga dapat berasal dari penggunaan alat pemanas berbahan bakar minyak tanah, cerobong asap, dan kompor gas.
Dampak Kesehatan dari Karbon Monoksida
Menurut informasi yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, paparan terhadap karbon monoksida dapat menyebabkan berbagai gejala, antara lain:
- Sakit kepala
- Pusing
- Sesak napas
- Mata berair
- Tekanan darah tinggi
Jika seseorang terpapar karbon monoksida dalam jangka waktu yang lama, risiko untuk mengalami masalah kesehatan yang lebih serius dapat meningkat, seperti:
- Penyakit jantung koroner
- Serangan jantung
- Penyakit kardiovaskuler lainnya
Tanggapan BMKG Mengenai Citra NASA
Marjuki, Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, menjelaskan bahwa citra yang ditunjukkan oleh NASA menunjukkan sebaran gas pada lapisan atmosfer sekitar 500 milibar, yang setara dengan ketinggian 5-6 kilometer di atas permukaan bumi. Ia menekankan bahwa peta tersebut tidak secara langsung mencerminkan kualitas udara yang dihirup oleh masyarakat.
"Cara membacanya, warna merah hingga jingga menunjukkan jumlah CO di lapisan tersebut yang relatif lebih tinggi dibanding wilayah lain. Warna tersebut tidak menunjukkan kadar di udara yang kita hirup, tidak otomatis berarti berbahaya bagi kesehatan, dan tidak memastikan sumber emisi di setiap wilayah yang berwarna," ujarnya.
Karbon monoksida memiliki waktu bertahan yang cukup lama di atmosfer, sehingga dapat terbawa angin hingga ribuan kilometer dari sumbernya. Namun, penyebaran yang luas tidak selalu berarti konsentrasi gas tersebut tinggi. Marjuki menegaskan bahwa sebaran yang luas tidak sama dengan konsentrasi yang tinggi, karena CO dapat bertahan cukup lama di udara dan menyebar ke wilayah yang sangat luas dalam konsentrasi yang lebih rendah.
Ia juga menekankan bahwa citra satelit NASA berguna untuk memantau pergerakan gas di atmosfer, namun informasi tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya acuan untuk menilai kualitas udara yang dihirup oleh masyarakat.