Jakarta - Menjelang akhir tahun, momen penting tiba untuk memberikan penghargaan kepada para guru yang sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Di seluruh dunia, Hari Guru diperingati setiap tanggal 5 Oktober, sementara Indonesia merayakannya sebagai Hari Guru Nasional pada 25 November. Dalam menyambut perayaan ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengingatkan akan dua peran krusial guru yang saling melengkapi, yaitu sebagai agen pembelajaran dan agen peradaban.
Agen Pembelajaran dan Peradaban
Mu'ti menjelaskan bahwa peran guru sebagai agen pembelajaran sangat signifikan, karena mereka berfungsi sebagai sosok yang dapat dicontoh dan diteladani oleh siswa. Dalam konteks ini, guru berperan sebagai role model yang mentransfer ilmu, nilai, dan keterampilan kepada murid-muridnya. Namun, Mu'ti juga menekankan bahwa peran guru tidak hanya terbatas pada itu, melainkan juga sebagai agen peradaban. "Substansi pendidikan adalah membangun peradaban dan karakter, sehingga manusia memiliki sikap toleran, terbuka, serta siap bekerja sama," ujarnya dalam Webinar Internasional Pendidikan Bermutu untuk Semua yang disiarkan secara daring.
Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Positif
Dalam kapasitasnya sebagai agen peradaban, guru memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan sekolah yang berfungsi sebagai titik pertemuan dan penggabungan. Pertemuan antara siswa dan guru di sekolah harus dibangun secara edukatif dan alami untuk menumbuhkan sikap toleran, terbuka, dan kerjasama. "Penciptaan lingkungan ini mencakup aspek fisik, sosial, spiritual, hingga digital," jelas Mu'ti.
Mu'ti juga menyoroti pentingnya peran masyarakat dan keluarga dalam menciptakan sekolah yang aman dan nyaman. Ia mencatat bahwa banyak anak yang terlibat dalam tindakan kekerasan dipengaruhi oleh lingkungan di luar sekolah. "Banyak anak yang berperilaku kekerasan biasanya terpengaruh oleh lingkungan keluarga, masyarakat, atau apa yang mereka tonton di media massa maupun media sosial," tambahnya.
Untuk mendukung terciptanya lingkungan yang positif, Kemendikdasmen meluncurkan kebijakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang mendorong anak untuk lebih aktif dalam berinteraksi dengan teman sebaya dan orang dewasa dalam suasana saling menghormati. "Semakin banyak anak-anak berinteraksi dengan teman sebaya dan orang dewasa dalam suasana yang saling memuliakan, mereka akan memiliki perilaku baik dengan ketulusan untuk menerima dan mengakomodasi orang lain," jelas Mu'ti.
Selain itu, Mu'ti mengingatkan bahwa guru juga berperan dalam merancang lingkungan sekolah sebagai hidden curriculum, yang sejalan dengan kebijakan pembelajaran mendalam. "Di mana pengalaman dan praktik di lingkungan pendidikan menjadi modal sosial bagi siswa untuk berperilaku baik dan memiliki keadaban utama," imbuhnya.
Webinar Internasional Pendidikan Bermutu untuk Semua diadakan dalam rangka menyambut Hari Guru Nasional dan Hari Guru Sedunia. Executive Director Leimena Institute, Matius Ho, menyatakan dukungannya terhadap program Kemendikdasmen yang bertajuk "Budaya Sekolah Aman dan Nyaman". Ia menekankan bahwa hubungan antara guru dan siswa, serta antar sesama warga sekolah dengan masyarakat, sangat penting karena kita mendidik manusia, bukan robot.
Untuk mendukung tercapainya budaya sekolah yang aman dan nyaman, Institut Leimena juga memperkenalkan pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB), yang telah menjangkau lebih dari 12 ribu guru dan pendidik di 38 provinsi. Melalui LKLB, guru dilatih untuk mengajarkan dan membangun suasana toleransi yang kuat di dalam kelas, serta mengatasi stereotip negatif dan ketakutan terhadap orang dengan latar belakang agama, kepercayaan, dan budaya yang berbeda. "Agar kita dapat bekerja sama secara harmonis untuk mengatasi masalah bersama, untuk mencapai kebaikan bersama," tutupnya.