PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) mencatat pertumbuhan dana murah atau current account and savings account (CASA) sebesar 16,7% secara tahunan, mencapai Rp79,81 triliun hingga September 2026. Peningkatan ini berkontribusi pada penguatan komposisi pendanaan bank, di mana rasio CASA meningkat menjadi 64,1% dari 52,2% pada periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan dana murah ini didorong oleh peningkatan giro yang mencapai 21,1% dan tabungan yang naik 8,5% secara tahunan. Namun, deposito berjangka mengalami penurunan sebesar 28,5% dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga porsi dana murah dalam struktur simpanan nasabah semakin besar. Secara keseluruhan, total simpanan nasabah Maybank Indonesia tercatat sebesar Rp124,59 triliun, menurun dari Rp130,99 triliun pada September 2025.
Peningkatan Pendapatan Bunga Bersih
Perubahan dalam komposisi pendanaan ini sejalan dengan pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang meningkat 4,3% secara tahunan menjadi Rp5,75 triliun. Kenaikan NII ini didukung oleh penurunan beban bunga serta peningkatan pendapatan bunga dari sektor pembiayaan dan anak usaha. Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan menyatakan bahwa penguatan dana murah menjadi fokus utama perusahaan dalam membangun struktur pendanaan yang lebih efisien dan mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
“Pertumbuhan dana murah yang kami catatkan mencerminkan upaya Maybank Indonesia untuk terus memperkuat komposisi pendanaan dan mengoptimalkan pengelolaan biaya dana. Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan bisnis berjalan seiring dengan pengelolaan fundamental keuangan yang sehat, sehingga dapat terus memberikan nilai tambah bagi nasabah,” ujar Steffano.
Kinerja Keuangan dan Penyaluran Kredit
Dari sisi kinerja keuangan, Maybank Indonesia mencatat pendapatan operasional bruto (gross operating income/GOI) sebesar Rp7,28 triliun, meningkat 0,4% dibandingkan tahun lalu. Laba sebelum pajak (profit before tax/PBT) konsolidasian tercatat sebesar Rp1,43 triliun selama sembilan bulan pertama tahun 2026. Peningkatan komposisi pendanaan ini juga terjadi bersamaan dengan pertumbuhan aktivitas penyaluran kredit, di mana total kredit meningkat 6,8% menjadi Rp128,39 triliun, didukung oleh pertumbuhan di sektor Global Banking (GB) dan Community Financial Services (CFS).
Kredit Global Banking tumbuh 14,6% menjadi Rp57,35 triliun, sedangkan kredit Community Financial Services meningkat 1,2% menjadi Rp71,03 triliun. Pertumbuhan ini menunjukkan keberlanjutan aktivitas pembiayaan Maybank Indonesia di berbagai sektor. Seiring dengan pertumbuhan kredit, Maybank Indonesia juga mencatat perbaikan dalam kualitas aset, dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loans (NPL) bruto menurun menjadi 2,1% dari 2,4% pada September 2025, dan NPL net membaik menjadi 1,3% dari sebelumnya 1,5%.
Dari sisi permodalan, Maybank Indonesia mencatatkan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 24,0% dan rasio Common Equity Tier 1 (CET1) sebesar 22,8% pada September 2026. Tren pertumbuhan dana murah juga terlihat pada Unit Usaha Syariah (UUS) Maybank Indonesia, di mana CASA UUS tumbuh 12,6% menjadi Rp25,58 triliun, dengan rasio CASA meningkat menjadi 70,8% dari 62,2% pada periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan komposisi pendanaan Syariah ini diikuti oleh pertumbuhan pembiayaan sebesar 18,4% menjadi Rp32,46 triliun. Pada periode yang sama, laba sebelum pajak UUS tumbuh 29,4% menjadi Rp668 miliar, menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam bisnis Syariah baik dari segi pembiayaan maupun profitabilitas. Setelah menyelesaikan transformasi menjadi grup keuangan terintegrasi pada Agustus 2026, Maybank Indonesia berencana untuk terus memperkuat kolaborasi antarentitas, sebagai bagian dari strategi untuk mengoptimalkan kapabilitas bisnis dalam memberikan solusi keuangan yang lebih komprehensif bagi nasabah, sejalan dengan arah strategi ROAR30.