Fakta Politik

Prabowo: Pemimpin Indonesia Harus Cerdas dan Berani

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemimpin di Indonesia bukanlah sosok yang naif atau bodoh, melainkan harus cerdas dan berani menghadapi tantangan global.

D
Dila Rakasiwi
16 July 2026
46 pembaca
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemimpin Indonesia bukanlah naif atau bodoh. (Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden)
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemimpin Indonesia bukanlah naif atau bodoh. (Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa pemimpin di Indonesia bukanlah individu yang naif dan bodoh. "Pemimpin-pemimpin Indonesia bukan pemimpin yang bodoh, bukan pemimpin yang naif, bukan pemimpin yang penakut," ungkap Prabowo saat acara Groundbreaking Proyek Gas Abadi Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada Kamis (16/7).

Kondisi Dunia yang Penuh Ketidakpastian

Prabowo menjelaskan bahwa saat ini dunia sedang menghadapi banyak ketidakpastian, dengan berbagai konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia. Meski demikian, ia menekankan bahwa Indonesia tetap menjadi negara yang damai. "Kita bersyukur warisan dari pendiri-pendiri bangsa kita bahwa sesungguhnya Indonesia tidak punya musuh. Kita alhamdulillah sekarang ini kita sudah menjalin hubungan baik dengan semua tetangga kita dan kita bertekad bahwa itu pendirian kita," tuturnya.

Prinsip Politik Luar Negeri Indonesia

Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyatakan bahwa Indonesia menjalin persahabatan yang baik dengan semua negara tetangga. Ia menjelaskan bahwa prinsip politik luar negeri Indonesia adalah menghormati semua negara di dunia. "Dalam kondisi ini, kita terbuka kepada semua mitra, semua negara yang mau masuk ke Indonesia, mau bermitra sama Indonesia, mau bekerja dengan saling menguntungkan. Ini sikap kita," ujarnya.

Lebih lanjut, Prabowo mengungkapkan bahwa ada pihak-pihak tertentu yang sering meremehkan bangsa Indonesia. Ia menyebutkan bahwa pandangan tersebut mungkin muncul karena keramahan dan kebaikan hati masyarakat Indonesia yang sering disalahartikan sebagai kelemahan. "Kita dibilang bangsa yang santai, kita dibilang bangsa yang malas, bahwa rakyat Indonesia para pribuminya hobinya tidur. Padahal rakyat kita berjuang keras dari hari ke hari untuk mencari kehidupan yang layak," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa banyak masyarakat yang bekerja keras, seperti mereka yang melaut untuk mencari ikan meskipun harus mempertaruhkan nyawa. "Di mana-mana rakyat kita kerja keras. Tapi kalau iklim itu begitu panas, ya kearifan nenek moyang mengajarkan kita hindari panas pada saat terik matahari," pungkasnya.

Artikel Terkait