Jakarta - Pada tahun 1960, Heinz von Foerster, seorang fisikawan dari University of Illinois, mengemukakan prediksi mengenai hari kiamat yang akan jatuh pada hari Jumat, 13 November 2026. Penelitian yang dilakukan oleh Foerster berfokus pada ketidakseimbangan populasi yang dapat menyebabkan manusia terjepit dalam situasi sulit. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Science, bekerja sama dengan peneliti lain, Patricia M Mora dan Lawrence W Amiot.
Dalam studi tersebut, para peneliti menilai bahwa manusia adalah makhluk sosial yang mampu berkolaborasi dan berinovasi. Karakteristik ini, menurut mereka, akan mendorong pertumbuhan populasi yang pesat, sehingga jumlah manusia diperkirakan akan mencapai angka tak terhingga pada tanggal yang diprediksi tersebut.
Kontradiksi dengan Pemikiran Malthus
Di sisi lain, ekonom asal Inggris, Thomas Malthus, berpendapat bahwa pertumbuhan populasi manusia akan melampaui ketersediaan makanan, yang berpotensi menyebabkan kelaparan massal. Namun, Foerster menolak pandangan Malthus dengan menyatakan bahwa manusia akan memanfaatkan kecerdasannya untuk bertahan hidup dan memastikan kebutuhan pangan tetap terpenuhi. "Cucu buyut kita tidak akan mati kelaparan. Mereka akan mati terhimpit," tulis studi tersebut, seperti yang dikutip dari Popular Science.
Fenomena Pertumbuhan Populasi
Pada tahun 1800, populasi global mencapai 1 miliar, kemudian meningkat menjadi 5 miliar pada tahun 1987, dan terakhir, pada tahun 2022, mencapai 8 miliar jiwa. Joel Cohen, seorang profesor di Rockefeller University, menjelaskan bahwa salah satu faktor utama pertumbuhan populasi yang pesat adalah penyebaran tanaman murah dan berkalori tinggi dari Amerika, seperti kentang dan jagung.
Walaupun terjadi ledakan populasi di masa lalu, fenomena ini tidak berlangsung terus-menerus, sehingga tidak bisa dianggap sebagai satu-satunya penyebab pertumbuhan populasi yang signifikan. Beberapa ahli berpendapat bahwa lonjakan populasi bukan disebabkan oleh meningkatnya angka kelahiran, melainkan karena lebih banyak anak yang selamat berkat perbaikan dalam sanitasi, gizi, dan pengetahuan tentang penyakit. Setelah angka kematian anak menurun, banyak keluarga mulai memiliki lebih sedikit anak.
Perdebatan mengenai pertumbuhan populasi ini juga melibatkan akademisi seperti von Foerster dan Paul R Ehrlich, yang keahlian mereka bukan di bidang demografi. Dean Spears, seorang profesor madya dan ahli demografi ekonomi di University of Texas, menyatakan bahwa banyak ahli demografi yang menganggap prediksi tersebut sebagai hal yang tidak logis. "(Asumsi von Foerster tentang pertumbuhan populasi) didasarkan pada kesalahpahaman tentang asal-usul pertumbuhan penduduk," ungkap Spears.
Perubahan Tren Demografi Saat Ini
Saat ini, di banyak negara, seperti Korea Selatan, Jepang, dan sebagian besar Eropa Barat, kekhawatiran di kalangan ahli demografi telah beralih dari masalah kelebihan populasi menjadi penurunan angka kelahiran. Sejak tahun 1957, penggunaan pil kontrasepsi telah resmi diperkenalkan, memberikan perempuan kontrol lebih atas jumlah anak yang ingin dimiliki.
Selain pil kontrasepsi, tren urbanisasi dalam beberapa dekade terakhir juga membuat anak-anak dipandang sebagai beban finansial tambahan. Akses yang lebih baik terhadap pendidikan dan pekerjaan juga menjadi faktor yang mendorong perubahan tren demografi dalam 50 tahun terakhir. Di tingkat kebijakan, China pernah menerapkan kebijakan satu anak pada tahun 1979, sementara India melaksanakan kampanye sterilisasi paksa antara tahun 1975 hingga 1977.
Dean Spears menambahkan bahwa tanpa kebijakan-kebijakan tersebut, angka kelahiran kemungkinan besar tetap akan menurun. Menurut Popular Science, baru-baru ini, mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan menawarkan insentif pajak bagi keluarga baru yang memiliki anak, serta mempertimbangkan pemberian medali bagi wanita yang melahirkan enam anak atau lebih.
Dengan demikian, para ahli demografi meyakini bahwa dunia tidak akan menghadapi kiamat pada 13 November 2026.