Harga emas, yang merupakan logam mulia, menunjukkan fluktuasi dan cenderung mengalami penurunan di tengah berbagai tantangan geopolitik dan geoekonomi yang terjadi di seluruh dunia. Untuk perdagangan pekan depan, harga emas diperkirakan akan berada di antara Rp 2,44 juta hingga Rp 2,74 juta per gram.
Pada akhir pekan ini, harga emas internasional ditutup pada level 4.053 dolar AS per troy ons, sedangkan harga logam mulia domestik tercatat di Rp 2,62 juta per gram. Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang dan komoditas, memperkirakan bahwa jika harga emas mengalami penurunan, level support pertama akan berada di 3.968 dolar AS per troy ons dan harga logam mulia di Rp 2,59 juta per gram.
Proyeksi Harga Emas dan Indeks Dolar AS
Apabila penurunan harga berlanjut, level support kedua untuk harga emas dunia diprediksi berada di 3.871 dolar AS per troy ons, dengan harga logam mulia di Rp 2,44 juta per gram. Di sisi lain, jika harga mengalami lonjakan, level resistance pertama akan berada di 4.148 dolar AS per troy ons dan harga logam mulia di Rp 2,63 juta per gram. Jika harga semakin menguat, level resistance kedua diperkirakan di 4.240 dolar AS per troy ons dan harga logam mulia di Rp 2,74 juta per gram.
“Jadi, kalau untuk emas dunia dalam sepekan itu kemungkinan support-nya di 3.871 dolar AS per troy ons, kemudian resistance-nya di 4.240 dolar AS per troy ons, jadi melebar. Logam mulianya di Rp 2,44 juta per gram, resistance-nya adalah Rp 2,74 juta per gram,” kata Ibrahim kepada wartawan.
Indeks dolar AS pada akhir pekan ini ditutup di level 101,47. Ibrahim memprediksi bahwa dalam sepekan ke depan, level support untuk indeks dolar AS akan berada di 100,40, sedangkan level resistance-nya di 102,40. “Jadi, kisaran pergerakan sepekan ke depan untuk indeks dolar AS itu di 100,40–102,40, ada kenaikan dua poin,” tuturnya.
Dampak Geopolitik terhadap Harga Komoditas
Mengenai harga minyak mentah dunia, pada akhir pekan ini ditutup di level 89,30 dolar AS per barel. Ibrahim memperkirakan harga WTI crude oil dalam sepekan ke depan akan berada di kisaran 82,60–102,80 dolar AS per barel. “Apa yang membuat indeks dolar, WTI crude oil, kemudian harga emas dunia dan logam mulia berfluktuasi? Kita akan kembali ke fundamental. Ada beberapa faktor yang memengaruhi, yakni geopolitik, kebijakan Bank Sentral AS, dan perang dagang,” ungkapnya.
Ibrahim menjelaskan bahwa situasi perang di Timur Tengah semakin meluas, dengan kelompok Houthi di Yaman yang menyerang bandara di Arab Saudi. Selain itu, terdapat laporan bahwa Ukraina menyerang kapal yang membawa persenjataan dari Rusia menuju Iran di Laut Kaspia, menunjukkan keterlibatan Ukraina dalam konflik tersebut. “Ini mengindikasikan bahwa perang akan meluas, situasi perang akan melebar,” ujarnya.
Meskipun ada jeda dalam pertempuran antara Iran dan AS, Iran tetap bersiaga karena kekhawatiran akan serangan sporadis dari AS. “Faktor dari segi geopolitik ini berpengaruh terhadap kenaikan harga minyak mentah sehingga berdampak terhadap kenaikan harga gasoline di AS,” tuturnya.
Ibrahim menambahkan bahwa ketika harga minyak mentah, terutama Brent, berada di atas 100 dolar AS per barel, AS sempat mengurangi intensitas serangannya terhadap Iran. Kenaikan harga minyak akibat eskalasi konflik juga menyebabkan harga avtur dan gasoline di AS meningkat, yang pada gilirannya mendorong inflasi. Hal ini berpotensi menjadi senjata bagi Partai Demokrat dalam menghadapi pemerintahan Donald Trump pada pemilu sela mendatang.