Jakarta - Beberapa video yang menunjukkan siswa mengangkut tumpukan ompreng MBG telah menjadi viral di media sosial. Salah satu video menampilkan siswa SD yang bersama temannya menjinjing tumpukan ompreng sambil menaiki tangga tanpa pegangan menuju sekolah. Dalam video lainnya, para siswa terlihat berjalan menyusuri jalan kecil dengan membawa ompreng MBG karena kendaraan MBG tidak dapat masuk.
Kolom komentar pada unggahan tersebut dipenuhi oleh warganet yang mengkritik, menyatakan bahwa siswa seharusnya tidak dibebani dengan tugas mengangkut tumpukan ompreng. Beberapa komentar juga menyoroti potensi bahaya saat siswa menaiki tangga dengan beban berat dan berjalan di gang dengan pandangan terhalang oleh tumpukan ompreng.
Tanggapan Kepala BGN
Menanggapi kritik tersebut, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mencermati perbedaan reaksi masyarakat terhadap tindakan siswa yang membantu dalam program makanan, baik di dalam negeri maupun luar negeri. "Ada satu fenomena yang saya kira perlu juga untuk dicermati misalnya di medsos gitu ya, di mana kalau siswanya itu kemudian ikut membantu membagikan ompreng atau ikut mengambil MBG, di bawa begitu, itu kemudian ramai-ramai ada orang yang menghujat 'Ke mana petugasnya, kenapa harus siswa yang dikorban', dan lain sebagainya," ujarnya.
Ia juga menambahkan, "Di sisi lain, ada konten lain misalnya ada pembagian MBG di atau pembagian MBG yang sama di negara lain misalnya di China atau di Jepang, di mana siswanya itu sampai diminta nyuci omprengnya gitu. Itu kemudian mendapatkan banyak pujian." Pernyataan ini disampaikan dalam siaran Webinar Literasi Gizi bagi Kepala Sekolah di kanal YouTube BGN pada Selasa (15/9/2026), yang diakses pada Rabu (16/9/2026).
Pentingnya Kebiasaan Baik
Sudaryono menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan oleh siswa tersebut dapat memberikan dampak positif bagi mereka di masa mendatang. "Sehingga kami hanya ingin menyampaikan bahwa literasi gizi itu satu, literasi tentang gizi itu sendiri; dan yang kedua, adalah literasi tentang sopan santun, gitu. Jadi itu tadi yang disampaikan oleh Pak Deputi tadi mengantre kemudian juga ada piket ya, ngambil, membantu petugas untuk membagikan itu saya kira juga hal yang baik, gitu," jelasnya.
Dia menekankan bahwa kebiasaan kecil di sekolah dapat berpengaruh besar terhadap kinerja seseorang di dunia profesional. "Saya sangat meyakini bahwa hal-hal kecil di sekolah itu sangat berpengaruh terhadap performa seseorang nanti di dunia profesional. Saya sangat percaya itu," tambahnya.
Sudaryono juga menyatakan bahwa budaya yang diterapkan dalam pelaksanaan MBG di sekolah dapat membentuk kebiasaan positif bagi siswa saat mereka dewasa. "Budaya mengantre, budaya untuk bersabar, budaya untuk bersyukur, budaya untuk berdoa, cuci tangan, kemudian higienis, bersih dan lain sebagainya ini menjadi budaya yang baik, yang ini akan terus ya, manakala ini dibiasakan, akan menjadi sebuah kebiasaan yang baik nantinya," ungkapnya.
Deputi Promosi dan Kerja Sama BGN Mariman Darto sebelumnya juga menjelaskan bahwa terdapat delapan kebiasaan yang dibiasakan dalam program literasi dan keamanan gizi yang dilakukan oleh guru saat mengonsumsi MBG bersama murid. Kebiasaan tersebut termasuk budaya salam, mencuci tangan sebelum makan, dan antre saat mengambil makanan. "Tidak sekadar program MBG sebagai program memberi makan pada anak-anak, tidak. Tetapi kami ingin ada peningkatan karakter anak, terutama terkait dengan poin yang ketiga, disiplin itu," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa pembiasaan juga mencakup berdoa sebelum dan sesudah makan, makan bersama, serta literasi mengenai gizi dan ciri-ciri makanan yang tidak boleh dimakan.