Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penurunan yang signifikan, mendekati angka Rp 18.000 per dolar AS. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk proyeksi pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan melambat pada kuartal II 2026. Selain itu, keputusan pemerintah AS untuk menetapkan tarif baru sebesar 10 persen terhadap Indonesia juga berkontribusi pada pelemahan mata uang Garuda ini.
Menurut laporan Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026), rupiah melemah sebesar 26,50 poin atau 0,15 persen, mencapai level Rp 17.962,5 per dolar AS. Sebelumnya, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp 17.936 per dolar AS.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi yang Melambat
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa pemerintah melalui Menteri Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan mencapai sekitar 5,4 persen pada kuartal II 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal I 2026 yang tercatat sebesar 5,61 persen. Meskipun ada proyeksi penurunan, pemerintah tetap optimis bahwa pertumbuhan ekonomi akan meningkat pada semester kedua tahun ini, didorong oleh likuiditas yang terjaga dan penerapan kebijakan fiskal yang hati-hati.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, pemerintah berkomitmen untuk memastikan likuiditas dalam sistem perekonomian tetap memadai. Kecukupan likuiditas ini dianggap penting untuk mendukung aktivitas usaha, investasi, dan konsumsi masyarakat.
Defisit Neraca Perdagangan dan Dampaknya
Sentimen internal lainnya yang memengaruhi nilai tukar adalah defisit neraca perdagangan Indonesia yang terjadi untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca dagang Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026, setelah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Nilai ekspor Indonesia pada bulan tersebut tercatat sebesar 23,2 miliar dolar AS, turun 5,73 persen dibandingkan tahun lalu, terutama disebabkan oleh melemahnya ekspor nonmigas. Sementara itu, nilai impor mencapai 24,81 miliar dolar AS, meningkat 22,16 persen, terutama dari impor bahan baku dan penolong.
Selain itu, lonjakan harga minyak mentah dunia juga memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah. Saat ini, harga minyak mentah telah melampaui asumsi APBN-P sebesar 83 dolar AS per barel, yang memaksa pemerintah untuk mengambil langkah-langkah guna menutupi risiko defisit yang semakin dalam. Ibrahim menambahkan bahwa "Kenaikan akibat konflik di Timur Tengah berpotensi menekan kinerja eksternal Indonesia, mulai dari melebarnya defisit neraca transaksi berjalan hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada kuartal III 2026."