Nilai tukar rupiah pada hari Senin, 13 Juli 2026, mengalami penurunan sebesar 25 poin atau setara dengan 0,14 persen, menjadi Rp 18.090 per dolar AS. Penutupan sebelumnya berada di level Rp 18.065 per dolar AS. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa pelemahan ini disebabkan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kembali meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang menyebabkan lonjakan harga minyak mentah dunia," ungkap Lukman Leong di Jakarta. Ketegangan di wilayah tersebut semakin meningkat, terutama setelah serangan yang dilakukan oleh Iran terhadap sejumlah lokasi militer AS di negara-negara seperti Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, dan Oman sebagai respons atas serangan AS sebelumnya.
Perkembangan Terkini di Timur Tengah
Di hari yang sama, AS juga melancarkan serangan balasan di beberapa wilayah selatan Iran. Laporan dari stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, menyebutkan adanya beberapa ledakan yang terjadi di Bandar Abbas, Sirik, Pulau Qeshm, dan Jask, yang semuanya berada di Provinsi Hormozgan. Selain itu, terdapat pula laporan dari kantor berita Mehr mengenai ledakan di Kota Bushehr dan Kangan.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh data ekonomi penting dari AS yang akan dirilis, termasuk inflasi bulan Juni yang diperkirakan akan mengalami penurunan 0,1 persen secara bulanan dan dari 4,2 persen menjadi 3,9 persen secara tahunan. Berdasarkan faktor-faktor ini, nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.150 per dolar AS.