Fakta Hukum

Tindakan Lai Ching-te Dikecam China Setelah Kunjungi Eswatini

Pemerintah China mengecam kunjungan pemimpin Taiwan, Lai Ching-te, ke Eswatini yang dianggap sebagai tindakan tidak menghormati kedaulatan negara lain.

A
Agustinus Jaya Wiratama
07 May 2026
24 pembaca
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian (ANTARA/Desca Lidya Natalia)
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Pemerintah China mengkritik kunjungan pemimpin Taiwan, Lai Ching-te, ke Eswatini, negara di Afrika, dengan menyebutnya sebagai tindakan "menyelinap" yang tidak menghormati kedaulatan negara yang dilaluinya. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan bahwa Lai melakukan perjalanan tersebut dengan cara yang berbahaya dan keterlaluan.

"Lai Ching-te menyelinap ke pesawat asing dan menipu dirinya sendiri untuk masuk ke Eswatini dengan menyembunyikan informasi penumpang dari negara tersebut. Pada penerbangan pulangnya, setelah penggunaan wilayah udara ditolak oleh negara-negara terkait, Lai kembali menyelinap ke pesawat dan memaksa masuk melalui wilayah udara negara-negara tersebut," ungkap Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing.

Kunjungan Lai ke Eswatini berlangsung pada 2-4 Mei 2026, dan awalnya dijadwalkan untuk 22-26 April dalam rangka memperingati 40 tahun kenaikan takhta Raja Mswati III. Namun, perjalanan tersebut ditunda setelah Taiwan mengonfirmasi bahwa Seychelles, Mauritius, dan Madagaskar mencabut izin terbang pesawat Lai untuk melintasi wilayah udara mereka.

Lai kemudian terbang langsung dari Taipei ke Eswatini menggunakan jet pribadi Raja Mswati III, sebuah Airbus A340-313. Lin Jian menambahkan bahwa seluruh kejadian tersebut menunjukkan betapa sedikitnya Lai menghormati wilayah udara dan kedaulatan negara-negara terkait. "Apa yang dilakukannya sangat berbahaya dan keterlaluan," tegasnya.

Lin Jian juga menyatakan bahwa tindakan Lai menunjukkan bahwa separatisme "kemerdekaan Taiwan" adalah bisnis yang mencurigakan dan tidak dapat diterima oleh komunitas internasional. "Tindakannya tidak lain hanyalah aksi yang memalukan," katanya.

Beberapa politisi di Eswatini, menurut Lin Jian, dibayar oleh Taiwan dan secara keliru memberikan ruang bagi "kemerdekaan Taiwan." Ia mengutuk tindakan tersebut dan menyerukan para politisi di negara-negara itu untuk berhenti mendukung agenda separatis.

Lin Jian menegaskan bahwa hanya ada satu China di dunia dan Taiwan adalah bagian yang tak terpisahkan dari wilayah China. Ia menekankan bahwa prinsip "Satu China" adalah konsensus internasional yang memiliki dukungan kuat dan tidak tergoyahkan.

Lin Jian juga mendesak Eswatini dan negara-negara lain untuk melihat ke arah sejarah dan berhenti menjadi penopang bagi kelompok separatis "kemerdekaan Taiwan." Ia menjelaskan bahwa wilayah udara suatu negara termasuk dalam kedaulatan negara tersebut dan tindakan negara-negara terkait yang menolak izin penerbangan Lai sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional.

Selama kunjungannya, Lai bertemu Perdana Menteri Eswatini, Russell Dlamini, Ratu Ntombi Tfwala, dan Raja Mswati III. Di media sosial, Lai memuji Eswatini karena "berdiri teguh melawan berbagai tekanan diplomatik dan ekonomi, menyuarakan posisi internasional Taiwan melalui tindakan nyata."

Lai juga mengunjungi lokasi rencana proyek Taman Inovasi Industri Taiwan (TIIP) dan menyampaikan harapan agar lebih banyak perusahaan swasta Taiwan berinvestasi di Eswatini. Taiwan berharap dapat menjajaki pasar Afrika yang lebih luas dan menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar.

Saat ini, Taiwan hanya memiliki hubungan diplomatik dengan 12 negara, termasuk Eswatini, yang sebelumnya dikenal sebagai Swaziland. Pada tahun 2023, Tsai Ing-wen adalah mantan pemimpin Taiwan terakhir yang mengunjungi negara tersebut.

Tags: Belum ada tag pada artikel ini

Artikel Terkait