JAKARTA -- Akses layanan keuangan yang tinggi di kalangan remaja belum diimbangi dengan literasi yang memadai. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2024, tingkat inklusi keuangan untuk kelompok usia 15–17 tahun mencapai 85,10 persen, sementara tingkat literasinya hanya 51,70 persen. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya penguatan edukasi keuangan sejak dini.
Indonesia Financial Group (IFG) berkomitmen untuk meningkatkan pemahaman generasi muda tentang pengelolaan uang, risiko finansial di era digital, serta pentingnya perlindungan melalui produk asuransi. Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S. Adji, menekankan bahwa literasi keuangan sangat penting untuk membangun ketahanan ekonomi masyarakat. Ia menyatakan, "Pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan dan perlindungan risiko dapat membantu masyarakat mengambil keputusan keuangan secara lebih bijak sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi."
Pendidikan Keuangan Melalui Pendekatan Interaktif
Denny juga menambahkan bahwa edukasi keuangan harus disampaikan dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan peserta. Salah satu metode yang digunakan adalah pembelajaran interaktif, yang memungkinkan siswa memahami konsep keuangan melalui pengalaman langsung. IFG melakukan pendekatan ini melalui program IFG Goes to School, bekerja sama dengan Sekolah Alam Bogor dan Jaringan Sekolah Alam Nusantara. Program ini menerapkan metode pembelajaran berbasis permainan (game-based learning) untuk mengajarkan pengelolaan keuangan dan perlindungan risiko finansial.
"Dengan pendekatan Game-Based Learning, program ini membekali peserta dengan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, risiko finansial di era digital, serta pentingnya proteksi dan manajemen risiko," tambah Denny.
Perluasan Edukasi ke Masyarakat Umum
Selain fokus pada lingkungan sekolah, IFG juga memperluas edukasi keuangan kepada masyarakat umum. Perusahaan mengadakan kegiatan tahunan untuk merayakan Hari Asuransi, guna meningkatkan pemahaman tentang fungsi asuransi dalam perencanaan keuangan. IFG juga berpartisipasi dalam Jogja Financial Festival 2026 sebagai salah satu upaya edukasi keuangan. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan pentingnya pengelolaan keuangan dan perencanaan finansial jangka panjang.
Denny menambahkan, "Dengan penguatan literasi sejak dini, generasi muda diharapkan memiliki bekal yang lebih baik untuk mengelola keuangan secara bertanggung jawab dan menghadapi tantangan ekonomi di masa depan."
Pengamat BUMN, Toto Pranoto, berpendapat bahwa keterlibatan perusahaan jasa keuangan dalam edukasi dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Ia menyatakan bahwa edukasi tidak hanya sebatas memperkenalkan produk keuangan, tetapi juga menjelaskan manfaat dan risiko penggunaannya. "Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai layanan keuangan, termasuk manfaat dan risiko yang menyertainya," ucap Toto.
Toto juga menyoroti kesenjangan antara literasi dan inklusi keuangan di kalangan remaja. Menurut SNLIK OJK 2024, tingkat literasi keuangan untuk remaja berusia 15–17 tahun adalah 51,70 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai 65,43 persen. Di sisi lain, tingkat inklusi keuangan di kelompok usia tersebut mencapai 85,10 persen, dengan selisih antara inklusi dan literasi sebesar 33,40 poin persentase. "Data ini menunjukkan pentingnya mengimbangi akses terhadap layanan keuangan dengan pemahaman yang memadai mengenai manfaat, risiko, dan penggunaannya," kata Toto.
Ia menekankan bahwa penguatan literasi keuangan harus mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan industri jasa keuangan. Edukasi yang dilakukan sejak dini diharapkan dapat membentuk kebiasaan pengelolaan uang yang sehat serta meningkatkan kewaspadaan generasi muda terhadap risiko finansial di era digital.