Fakta Hukum

--- Tragedi Pengeroyokan Remaja di Surabaya Akibat Masalah Sandal ---

--- Seorang remaja berusia 19 tahun, Thomas Julius Kristianto, meninggal dunia setelah dikeroyok oleh empat temannya di Surabaya. Insiden tersebut dipicu oleh masalah sandal yang dipinjam oleh korban....

W
Wira Yudha
15 June 2026
9 pembaca
---
Tragedi Pengeroyokan Remaja di Surabaya Akibat Masalah Sandal

---
Korban pengeroyokan di Surabaya (Foto: dok. Istimewa)
---TITLEEXCERPT--- Seorang remaja berusia 19 tahun, Thomas Julius Kristianto, meninggal dunia setelah dikeroyok oleh empat temannya di Surabaya. Insiden tersebut dipicu oleh masalah sandal yang dipinjam oleh korban. ---CONTENT---

Seorang remaja berusia 19 tahun bernama Thomas Julius Kristianto menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan oleh empat orang temannya. Insiden tragis ini terjadi hingga mengakibatkan korban kehilangan nyawa. Berdasarkan laporan dari detikJatim pada hari Sabtu, 13 Juni 2026, keempat pelaku yang terlibat dalam pengeroyokan tersebut berinisial CJF, AAY, KVRL, dan RU, dan mereka telah diamankan oleh Polrestabes Surabaya.

Menurut keterangan dari Kasi Humas Polrestabes Surabaya, AKP Hadi Ismanto, pihak kepolisian telah berhasil menangkap keempat pelaku. Pengeroyokan ini diduga terjadi pada hari Sabtu, 30 Mei, di Jalan Manukan Yoso II, Surabaya, Jawa Timur. Kakak korban, Hana Novia Kristiani, menyatakan bahwa tidak ada masalah utang-piutang antara adiknya dan para pelaku.

Awal Mula Permasalahan

Hana menjelaskan bahwa permasalahan ini bermula pada pertengahan Mei 2026, ketika Thomas terlibat perselisihan dengan salah satu temannya yang kemudian menjadi pelaku pengeroyokan. Perselisihan tersebut dipicu oleh sandal merek Crocs milik pelaku yang berada di rumah teman Thomas. Saat itu, Thomas memakai sandal tersebut karena tidak memiliki alas kaki dan sepatunya dalam keadaan basah.

Setelah sandal tersebut diketahui hilang, pelaku meminta Thomas untuk menggantinya dengan sandal baru. Hana menyebutkan bahwa adiknya telah memberikan uang sejumlah Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu sebagai ganti rugi, tetapi pelaku merasa keberatan karena harga sandal yang hilang mencapai Rp 1,5 juta.

Penyesalan Keluarga

Hana sangat menyesalkan bahwa masalah sepele seperti sandal dapat berujung pada hilangnya nyawa adiknya. Ia mengungkapkan, "Cuma disayangkan anaknya emosional bahkan berujung melakukan tindakan anarki yang mana menghilangkan nyawa seseorang hanya motif ganti rugi sebuah sandal."

Insiden ini menjadi sorotan publik dan menimbulkan keprihatinan atas kekerasan yang terjadi di kalangan remaja. Keluarga berharap agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Artikel Terkait