Fakta Nasional

Transformasi Nelayan Fakfak: Dari Ikan Segar Menjadi Produk Bernilai Tinggi

Warga Kampung Saharey di Fakfak kini mengolah ikan menjadi berbagai produk seperti bakso, nugget, dan abon, berkat pendampingan dari TEP Unhas yang meningkatkan pendapatan mereka.

F
Fidzu Ardaf
31 October 2026
4 pembaca
Nelayan Fakfak olah ikan hasil tanggapan agar punya nilai lebih (dok. Tim Kementerian Transmigrasi)
Nelayan Fakfak olah ikan hasil tanggapan agar punya nilai lebih (dok. Tim Kementerian Transmigrasi)

Di Kampung Saharey, Kabupaten Fakfak, laut bukan hanya sekadar pemandangan yang indah, melainkan juga sumber harapan bagi penduduk setempat. Ikan yang ditangkap oleh nelayan kini tidak lagi hanya dijual segar, tetapi telah diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti bakso, nugget, kerupuk, sambal, dan abon, melalui dukungan dari Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Hasanuddin (Unhas).

Sebelumnya, hasil tangkapan nelayan seringkali dijual dengan harga rendah dan cepat habis, terutama saat musim panen. Namun, berkat pelatihan yang diberikan, kini nelayan dapat menghasilkan pendapatan harian antara Rp400 ribu hingga Rp800 ribu dengan modal awal sekitar Rp100 ribu hingga Rp300 ribu.

Peningkatan Keterampilan dan Teknologi

Potensi perikanan di Distrik Weri-Saharey sebenarnya cukup besar, dengan berbagai jenis ikan pelagis kecil dan ikan demersal. Namun, tantangan yang dihadapi adalah keterbatasan dalam pengolahan hasil laut dan teknologi yang tepat guna. Adnan, anggota TEP Unhas, menyatakan bahwa tim menemukan beberapa kendala di lapangan, termasuk kurangnya pengetahuan tentang pengolahan pascapanen dan akses pemasaran yang terbatas.

“Selain peluang, kami juga mencatat sejumlah tantangan, mulai dari kurangnya kemampuan pengolahan pascapanen, minimnya teknologi tepat guna, hingga terbatasnya akses pemasaran. Akibatnya, nelayan tidak berani menangkap ikan dalam jumlah banyak karena takut membusuk, dan penghasilan mereka menjadi tidak menentu,” ungkap Adnan.

Transformasi Ekonomi Keluarga

Pendampingan yang diberikan tidak hanya fokus pada pengolahan ikan, tetapi juga mencakup pelatihan tentang pengemasan, pelabelan produk, sanitasi, dan pengelolaan usaha. Para istri nelayan dilatih untuk mengolah ikan tanpa bahan pengawet dan diperkenalkan dengan alat produksi seperti alat pengasapan dan vacuum sealer. Sementara itu, para nelayan belajar cara menangani hasil tangkapan menggunakan cold storage untuk memperpanjang masa simpan ikan.

Perubahan ini sangat dirasakan oleh masyarakat. Seorang warga yang dikenal sebagai Mama Nayu Ohoibor, salah satu peserta pelatihan, mengungkapkan, “Alhamdulillah, sekarang kami sudah bisa kelola abon, bakso, nugget, sama keripik yang terbuat dari ikan. Tadinya yang kita hanya makan dan jual dengan murah. Dengan adanya kegiatan ini kami bisa berubah dari penghasilan yang tadinya mungkin sedikit, bisa menambah ekonomi dalam hidup kami ke depan.”

Dengan pengolahan yang lebih baik, hasil usaha nelayan kini dapat mencapai tiga kali lipat dari modal yang dikeluarkan. Ikan yang sebelumnya dianggap sebagai hasil tangkapan biasa kini menjadi bahan baku yang berharga, memberikan sumber pendapatan dan mendukung kemandirian ekonomi keluarga.

Inisiatif ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperkuat kemandirian pangan, di mana masyarakat pesisir dapat memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar mereka. Presiden RI Prabowo Subianto menekankan pentingnya swasembada pangan dan energi, terutama dalam situasi global yang tidak menentu.

Melalui langkah-langkah ini, warga Kampung Saharey menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, potensi yang ada di laut dapat diolah menjadi produk yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup mereka.

Artikel Terkait