Fakta Pendidikan

Universitas Indonesia Menanggapi Isu Prioritas Lulusan Pesantren dalam Penerimaan Mahasiswa Baru

Universitas Indonesia (UI) memberikan klarifikasi terkait pernyataan Suzie Sudarman yang menyebutkan bahwa kampus tersebut memprioritaskan lulusan pesantren dalam penerimaan mahasiswa baru.

P
Padma Dewi
09 October 2026
29 pembaca
Kampus UI, Depok Foto: Grandyos Zafna/detikFOTO
Kampus UI, Depok Foto: Grandyos Zafna/detikFOTO

Jakarta - Universitas Indonesia (UI) memberikan tanggapan atas pernyataan Suzie Sudarman yang menyatakan bahwa kampus tersebut memberikan prioritas kepada lulusan pesantren dalam proses penerimaan mahasiswa baru. Isu ini muncul setelah Suzie, mantan dosen Ilmu Hubungan Internasional di UI, menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah podcast bersama Gita Wirjawan. Dalam diskusi itu, Suzie mengklaim bahwa lulusan pesantren memiliki prioritas untuk diterima di UI, "Kriteria masuk UI adalah pesantren harus dinomorsatukan masuk. Masyaallah. Sudah enggak ada testing-testing," ujarnya dalam siniar tersebut.

Klarifikasi dari Pihak Universitas

Menanggapi pernyataan tersebut, Wakil Rektor UI Bidang Riset dan Inovasi, Prof. Dr. Hamdi Muluk, MSi, menegaskan bahwa pendapat individu tidak selalu mencerminkan sikap resmi universitas. "UI menjamin setiap civitas akademika atas nama pribadi punya opini, punya pendapat. Itu susah kita misalnya kita hentikan, enggak boleh ngomong, kan enggak bisa juga. Harus saya disclaimer sekarang, itu pasti bukan pernyataan UI," jelas Hamdi dalam sebuah siniar UI dengan media pada Kamis (8/10/2026).

Hamdi juga menyebutkan bahwa Suzie telah pensiun dari UI sejak 2017, yang menurutnya perlu dipertimbangkan dalam menilai pernyataan yang disampaikan, terutama terkait dengan kondisi kampus saat ini. "Tapi yang penting sudah pensiun 2017. Nah, orang pensiun berarti kan tidak banyak lagi engagement-nya dengan UI. Tidak update-lah," tambahnya.

Dasar Pernyataan dan Proses Penerimaan

Hamdi mengaku tidak mengetahui dasar dari klaim yang disampaikan Suzie dan mempertanyakan apakah pernyataan tersebut berasal dari informasi yang dapat diverifikasi atau sekadar rumor. "Saya tidak tahu juga ini apakah dasar beliau ngomong itu apakah mendengar hanya selentingan. Tapi saya sempat lihat podcast-nya itu kayak bawa-bawa teori konspirasi cara berpikirnya gitu loh," ungkap Hamdi.

Menurut Hamdi, proses penerimaan mahasiswa baru harus didasarkan pada bukti dan data, bukan rumor yang disebarluaskan tanpa verifikasi. "Kalau enggak ada evidence-nya, enggak bisa, jadinya rumor. Terus digoreng-goreng," katanya. Ia menekankan bahwa setiap kursi yang diperoleh oleh mahasiswa UI didasarkan pada prinsip penerimaan yang berintegritas dan meminta agar tidak menyebarkan isu-isu yang tidak berdasar.

Hamdi menegaskan bahwa UI menjunjung prinsip inklusivitas, dan praktik penerimaan mahasiswa yang mengistimewakan kelompok tertentu tidak sejalan dengan prinsip tersebut. "Yang jelas per hari ini reputasi UI itu sudah terbukti nyata. Itu enggak mungkin kalau itu terjadi, itu pasti memengaruhi reputasi UI. Reputasi UI hancur itu. Karena itu berarti tidak memenuhi syarat inklusivitas," tegasnya.

Prinsip penerimaan mahasiswa baru di UI diatur melalui Peraturan Rektor UI Nomor 9 Tahun 2022, yang mencakup empat prinsip dasar, yaitu objektif, transparan, akuntabel, dan pemerataan. Hamdi juga menanggapi isu mengenai dugaan kelompok tarbiyah yang menguasai kegiatan mahasiswa serta adanya lembaga yang mendapatkan keistimewaan dalam penerimaan mahasiswa baru dan dosen.

Ia menjelaskan bahwa UI merupakan ruang akademik yang mempertemukan mahasiswa dan dosen dari berbagai latar belakang, suku, dan keyakinan. Lingkungan tersebut harus dijaga agar seluruh sivitas akademika mendapatkan kesempatan yang setara. "UI itu harus berdiri di atas semua golongan, apa pun keyakinannya, mau apa pun agama, sukunya. Karena ini Indonesia, tempat melting pot. Semua orang ketemu," tutup Hamdi.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait