Fakta Kesehatan

Alternatif Pemanis Rendah Kalori yang Dapat Menggantikan Gula Pasir

Pemanis rendah kalori seperti aspartam dan sukralosa dapat menjadi pilihan untuk mengurangi konsumsi gula. Namun, penggunaannya tidak disarankan sebagai strategi jangka panjang untuk pengendalian bera...

F
Fidzu Ardaf
30 October 2026
2 pembaca
ilustrasi pemanis (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
ilustrasi pemanis (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Pemanis rendah kalori, termasuk aspartam, siklamat, sakarin, sukralosa, neotam, dan steviol glikosida, dapat membantu mengurangi asupan gula jika digunakan sebagai pengganti gula pasir. Meskipun demikian, pemanis non-gula tidak disarankan sebagai metode jangka panjang untuk mengontrol berat badan.

Pemanis ini sering digunakan dalam berbagai minuman seperti kopi, teh, dan produk kemasan lainnya. Pemanis intensitas tinggi umumnya digunakan dalam jumlah yang kecil. Beberapa pemanis dikenal sebagai pemanis buatan, sementara steviol glikosida berasal dari tanaman. Di Indonesia, pemanis termasuk dalam kategori bahan tambahan pangan, dan basis data CekBTP BPOM mencantumkan berbagai pemanis berdasarkan kategori pangan yang berbeda.

Daftar Pemanis dan Batas Konsumsi Harian

Berikut adalah beberapa pemanis yang tercatat dalam penilaian JECFA (Komite Ahli Gabungan FAO dan WHO) beserta batas konsumsi harian yang dapat diterima (acceptable daily intake/ADI):

  1. Asesulfam-K (Ace-K)
  2. Aspartam
  3. Siklamat
  4. Sakarin
  5. Sukralosa
  6. Neotam
  7. Steviol glikosida dari stevia

Hal yang perlu diperhatikan adalah ADI untuk pemanis ini bervariasi. Misalnya, ADI untuk aspartam adalah hingga 40 mg/kg berat badan per hari. Pemanis ini mengandung fenilalanin, sehingga tidak cocok untuk individu dengan fenilketonuria, suatu kelainan genetik langka yang membuat tubuh sulit memproses zat tersebut. BPOM juga memberikan peringatan mengenai fenilalanin dan penggunaan aspartam pada bahan yang dipanaskan.

Pada tahun 2023, aspartam menjadi sorotan setelah IARC mengkategorikannya sebagai “mungkin karsinogenik bagi manusia” berdasarkan bukti yang terbatas. Namun, penilaian risiko JECFA pada tahun yang sama menyatakan bahwa ADI 40 mg/kg tetap berlaku. IARC menilai potensi bahaya, sedangkan JECFA menilai risiko pada tingkat paparan tertentu.

Pentingnya Memahami Batasan Pemanis

Untuk siklamat, ADI ditetapkan hingga 11 mg/kg berat badan per hari, dihitung sebagai asam siklamat. BPOM mencantumkan beberapa bentuk siklamat, seperti natrium dan kalsium siklamat, dalam kategori pangan tertentu. Sementara itu, ADI untuk sakarin dan garamnya, termasuk bentuk natrium, kalium, dan kalsium, adalah hingga 5 mg/kg berat badan per hari.

Dalam penilaian JECFA, ADI untuk neotam adalah hingga 2 mg/kg berat badan per hari, meskipun angka ini dapat berbeda dengan penilaian otoritas lain. Otoritas Keamanan Makanan Eropa (EFSA) menetapkan ADI 10 mg/kg dalam evaluasi ulang yang akan dilakukan pada tahun 2025. Steviol glikosida, yang berasal dari tanaman stevia, memiliki ADI hingga 4 mg/kg berat badan per hari, dihitung sebagai ekuivalen steviol.

Perlu diingat bahwa ADI adalah perkiraan jumlah pemanis yang dapat dikonsumsi setiap hari dalam jangka panjang tanpa menimbulkan risiko kesehatan, yang dihitung berdasarkan berat badan dan total asupan dari semua makanan dan minuman. Misalnya, jika suatu pemanis memiliki ADI 10 mg per kg berat badan per hari, maka individu dengan berat badan 60 kg memiliki batas aman sebesar 600 mg per hari.

BPOM juga mengatur jumlah pemanis yang boleh ditambahkan ke dalam produk tertentu, seperti minuman, yogurt, atau makanan ringan. Aturan ini berbeda-beda untuk setiap jenis pangan, sehingga batas yang berlaku untuk minuman belum tentu sama dengan yang berlaku untuk makanan lainnya.

Untuk memahami lebih lanjut tentang produk yang dikonsumsi, BPOM mewajibkan pencantuman peringatan pada produk yang mengandung pemanis buatan. Produk ini umumnya tidak dianjurkan untuk anak di bawah lima tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui. Khusus untuk produk yang mengandung aspartam, terdapat peringatan tambahan bagi penderita fenilketonuria.

Penelitian mengenai manfaat jangka panjang pemanis non-gula untuk penurunan berat badan masih belum jelas. Oleh karena itu, WHO tidak merekomendasikan pemanis non-gula sebagai cara utama untuk mengendalikan berat badan atau mencegah penyakit kronis. Namun, rekomendasi ini tidak berarti bahwa pemanis tersebut tidak aman, dan juga tidak ditujukan bagi individu yang sudah memiliki diabetes.

Jika tujuan utama adalah mengurangi konsumsi gula tambahan, pilihan yang lebih sederhana dan minim risiko tetap adalah air putih, minuman tanpa pemanis, serta buah utuh.

Artikel Terkait