Asap rokok diketahui dapat mengiritasi pita suara, yang menyebabkan perubahan suara seperti serak, suara yang terdengar lebih berat, atau kelelahan saat berbicara. Paparan jangka panjang terhadap asap rokok dapat menyebabkan pembengkakan pada pita suara dan menyempitnya rentang nada yang dapat dihasilkan.
Suara serak tidak selalu menjadi indikasi adanya penyakit serius, namun perokok disarankan untuk melakukan pemeriksaan jika mengalami perubahan suara yang berlangsung lama. Proses perubahan suara ini biasanya terjadi secara bertahap, di mana suara dapat terdengar semakin serak atau berat, dan berbicara menjadi lebih melelahkan. Selain itu, nada tinggi yang sebelumnya mudah dicapai menjadi semakin sulit.
Penyebab Perubahan Suara pada Perokok
Asap rokok dapat mengiritasi pita suara, yaitu jaringan di dalam laring yang berfungsi menghasilkan suara saat bergetar akibat aliran udara dari paru-paru. Iritasi yang berlangsung lama dapat mempengaruhi kualitas dan karakter suara. Suara menjadi berbeda karena merokok dapat mengakibatkan rentang nada suara yang lebih sempit.
Suara dihasilkan dari getaran pita suara, dan bentuk serta ukuran pita suara tersebut berperan penting dalam menentukan tinggi-rendah dan kualitas suara. Jika paparan asap rokok menyebabkan iritasi dan peradangan, maka getaran pita suara dapat berubah, sehingga suara terdengar serak atau lebih berat dan pemilik suara mungkin merasa cepat lelah saat berbicara.
Pada beberapa individu, paparan jangka panjang dapat berhubungan dengan kondisi edema Reinke, yaitu penumpukan cairan dan pembengkakan pada lapisan pita suara. Kondisi ini dapat membuat suara terdengar lebih rendah dan kasar, serta mengurangi kemampuan untuk mengontrol tinggi nada. Merokok menjadi salah satu faktor risiko utama, meskipun penggunaan suara yang berlebihan dan refluks juga dapat berkontribusi.
Pentingnya Memperhatikan Perubahan Suara
Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2026 membandingkan 31 pria perokok dengan 31 pria non-perokok, menunjukkan bahwa kelompok perokok memiliki rentang suara dan kemampuan untuk mencapai nada tertinggi yang lebih rendah. Durasi merokok yang lebih lama juga berhubungan dengan penyempitan rentang nada.
Metaanalisis yang melibatkan sembilan penelitian menemukan perbedaan signifikan dalam tinggi nada dan kemampuan seseorang untuk mempertahankan suara. Namun, tidak semua ukuran kualitas suara menunjukkan perbedaan yang berarti. Para peneliti menekankan pentingnya penelitian jangka panjang untuk menguatkan hasil tersebut.
Suara serak dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti pilek, penggunaan suara yang berlebihan, atau refluks. Oleh karena itu, perubahan suara tidak selalu menunjukkan adanya kanker. Namun, penggunaan tembakau meningkatkan risiko kanker laring, dan perubahan suara atau suara serak yang menetap harus diperhatikan dengan serius.
Panduan dari American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery merekomendasikan untuk memeriksakan laring jika gangguan suara tidak menunjukkan perbaikan dalam waktu empat minggu. Riwayat merokok juga menjadi salah satu faktor yang mendorong perlunya pemeriksaan lebih cepat. Jika disertai gejala seperti sesak napas, kesulitan atau nyeri saat menelan, adanya benjolan di leher, atau batuk yang berkepanjangan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Berhenti merokok dapat membantu mengurangi paparan yang mengiritasi pita suara. Namun, jika sudah terjadi pembengkakan atau perubahan struktural yang menetap, suara tidak selalu akan pulih hanya dengan berhenti merokok. Dokter spesialis THT dapat membantu menilai penyebab dan memberikan pilihan penanganan yang tepat.