Data dari Strava menunjukkan bahwa minat perempuan terhadap latihan beban semakin meningkat, terutama di kalangan generasi Z. Penelitian mengenai citra tubuh mengungkapkan bahwa meskipun ada dorongan untuk menjadi "kuat", masih terdapat harapan untuk mempertahankan penampilan ramping. Tren ini terlihat jelas di media sosial dan pusat kebugaran, di mana perempuan semakin sering terlihat melakukan latihan dengan barbel dan menunjukkan otot mereka. Ungkapan "strong is the new skinny" semakin populer, terutama di kalangan anak muda.
Peningkatan Aktivitas Latihan Beban
Laporan Strava Year in Sport 2024 mencatat bahwa jumlah unggahan latihan beban oleh perempuan meningkat sebesar 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di tahun 2025, perempuan tercatat 21 persen lebih mungkin daripada laki-laki untuk mencatat latihan beban di platform tersebut. Generasi Z juga dua kali lebih cenderung dibandingkan generasi X untuk menyebut latihan beban sebagai olahraga utama mereka. Meskipun data tersebut menunjukkan tren positif, penting untuk dicatat bahwa informasi ini berasal dari aktivitas yang dicatat di platform, bukan representasi keseluruhan populasi perempuan atau anak muda.
Survei tahunan dari American College of Sports Medicine (ACSM) juga menunjukkan bahwa latihan beban tradisional telah meningkat dalam peringkat popularitas, dari posisi ke-17 pada tahun 2024 menjadi ke-5 pada tahun 2025, dan kemudian ke-7 pada tahun 2026. Temuan ini mencerminkan pandangan para profesional kebugaran mengenai tren di industri ini.
Tantangan dalam Citra Tubuh
Ungkapan "strong is the new skinny" telah dibahas dalam kajian citra tubuh selama beberapa tahun terakhir. Penelitian yang dilakukan oleh Marika Tiggemann dan Mia Zaccardo pada tahun 2018 menganalisis 600 gambar fitspiration di Instagram, di mana mayoritas gambar perempuan menunjukkan tubuh yang "ramping dan kencang". Namun, banyak gambar juga mengandung elemen objektifikasi.
Sebuah tinjauan sistematis terhadap 20 penelitian pada tahun 2022 menemukan bahwa paparan konten fitspiration berkaitan dengan ketidakpuasan terhadap tubuh dan suasana hati negatif, terutama di kalangan kelompok usia muda. Riset yang dilakukan pada tahun 2025 mengenai pengalaman perempuan di pusat kebugaran menunjukkan bahwa pengalaman mereka bervariasi. Dari 279 perempuan yang berpartisipasi dalam survei daring, beberapa merasa lebih percaya diri saat menguasai gerakan atau menggunakan area free weight, sementara yang lain merasa dinilai berdasarkan penampilan atau kemampuan.
Penelitian menunjukkan bahwa meskipun latihan beban semakin populer dan tubuh yang kuat semakin dihargai, perempuan masih menghadapi tuntutan untuk terlihat ramping sekaligus berotot. Menurut Nicholas Ratamess, PhD, profesor di bidang Kinesiology and Health Sciences di The College of New Jersey, latihan beban tradisional terbukti meningkatkan kesehatan fisik dan mental, serta kualitas hidup.
Elizabeth Matzkin, MD, kepala kedokteran olahraga perempuan di Brigham and Women’s Hospital, menekankan pentingnya menjaga kekuatan tubuh. "Kita membutuhkan keseimbangan yang sehat," ujarnya. Pedoman dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar orang dewasa melakukan aktivitas penguatan otot setidaknya dua hari dalam seminggu, serta aktivitas aerobik mingguan.
Bagi mereka yang baru memulai, kemajuan dapat diukur dari kemudahan dalam melakukan gerakan, peningkatan kemampuan mengangkat beban, atau kenyamanan dalam aktivitas sehari-hari. Setiap individu memiliki sasaran dan kondisi tubuh yang berbeda, sehingga penting untuk memulai latihan sesuai kemampuan dan meningkatkan beban secara bertahap. Pelatih yang berkualifikasi dapat membantu dalam menyusun program latihan yang sesuai.
Secara keseluruhan, makna dari "strong is the new skinny" dapat diartikan sebagai tubuh yang sehat, kuat, dan mampu beraktivitas, tanpa terikat pada bentuk fisik tertentu.