Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa kelompok yang mengonsumsi kopi decaf menunjukkan peningkatan pada beberapa tes memori. Meskipun hasil ini menjanjikan, penelitian tersebut belum membuktikan bahwa kopi decaf lebih baik untuk semua orang. Kopi decaf memiliki kandungan kafein yang jauh lebih rendah, menjadikannya pilihan bagi individu yang ingin membatasi asupan kafein.
Temuan Studi tentang Kopi Decaf
Studi ini, yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications pada tahun 2026, meneliti hubungan antara konsumsi kopi dengan mikrobioma usus, suasana hati, dan fungsi kognitif. Dalam penelitian ini, 31 peminum kopi rutin diminta untuk berhenti minum kopi selama dua minggu. Setelah periode tersebut, 15 peserta diberikan kopi decaf dan 16 peserta lainnya diberikan kopi berkafein selama tiga minggu. Peserta tidak mengetahui jenis kopi yang mereka konsumsi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang mengonsumsi kopi decaf mengalami peningkatan signifikan pada beberapa bagian tes memori serta penurunan kesalahan dalam tes belajar. Sementara itu, kelompok yang mengonsumsi kopi berkafein tidak menunjukkan perubahan signifikan yang sama. Meskipun demikian, penulis penelitian mengingatkan bahwa ini belum membuktikan bahwa kopi decaf secara umum lebih unggul. Jumlah peserta yang terbatas dan durasi intervensi yang singkat menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Kandungan dan Efek Kopi Decaf
Kopi mengandung berbagai senyawa, termasuk polifenol, dan dalam studi ini, baik kopi decaf maupun berkafein diikuti dengan perubahan pada beberapa mikroba dan metabolit dalam sampel tinja. Perubahan mikrobioma juga teramati setelah konsumsi kopi, terlepas dari adanya kafein. Temuan ini mendukung kemungkinan bahwa beberapa efek kopi tidak hanya berasal dari kafein. Namun, perubahan pada komposisi mikrobioma tidak serta merta menunjukkan peningkatan kesehatan usus.
Keunggulan paling mencolok dari kopi decaf adalah kandungan kafeinnya yang jauh lebih rendah dibandingkan kopi biasa. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), kopi decaf umumnya mengandung sekitar 2–15 miligram kafein per cangkir 8 ons. Oleh karena itu, kopi decaf menjadi pilihan bagi mereka yang ingin mengurangi asupan kafein, terutama bagi yang merasa gelisah atau sulit tidur setelah mengonsumsi kopi.
Studi meta-analisis yang dilakukan pada tahun 2025 menunjukkan bahwa konsumsi kafein berkaitan dengan waktu tidur yang lebih pendek dan efisiensi tidur yang menurun. Meskipun temuan ini tidak membuktikan bahwa kopi decaf selalu memperbaiki kualitas tidur, beralih ke kopi decaf dapat membantu mengurangi paparan kafein, terutama bagi individu yang sensitif terhadap kafein.
Dalam penelitian ini, kelompok yang mengonsumsi kopi berkafein juga menunjukkan penurunan skor kecemasan dan tekanan psikologis, serta peningkatan dalam salah satu tes perhatian. Kedua kelompok melaporkan perubahan pada sejumlah ukuran, seperti tingkat stres dan impulsivitas. Hal ini menunjukkan bahwa efek yang ditimbulkan bisa berbeda tergantung pada jenis kopi yang dikonsumsi.
Secara keseluruhan, kopi decaf dapat membantu individu mengurangi asupan kafein sambil tetap menikmati kopi. Keunggulan ini sangat bermanfaat bagi mereka yang sensitif terhadap kafein atau yang ingin menghindari dampak negatifnya terhadap tidur. Namun, kesimpulan mengenai manfaat memori dari kopi decaf masih perlu diuji lebih lanjut.