Fakta Pendidikan

Faktor Penyebab Kendaraan Mati Mendadak di Rel Kereta Menurut Pakar BRIN

Kecelakaan di perlintasan kereta sering disebabkan oleh kendaraan yang mati mendadak di rel. Pakar dari BRIN mengungkapkan tiga penyebab utama fenomena ini.

A
Agustinus Jaya Wiratama
13 May 2026
23 pembaca
Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr Eng Eka Rakhman ST MT membeberkan beberapa sebab kendaraan mati mendadak di rel kereta. Foto: Cicin Yulianti/detikcom
Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr Eng Eka Rakhman ST MT membeberkan beberapa sebab kendaraan mati mendadak di rel kereta. Foto: Cicin Yulianti/detikcom

Jakarta - Kecelakaan yang terjadi di perlintasan kereta api sering kali disebabkan oleh kendaraan yang tiba-tiba mati di rel, sehingga terjebak dan tertabrak kereta. Salah satu insiden yang mencolok adalah tabrakan antara Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dan Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur pada April 2026. Dalam kejadian tersebut, matinya mesin sebuah mobil di rel menjadi pemicu tabrakan antara KA dan KRL.

Menanggapi kejadian-kejadian serupa, Dr. Eng Eka Rakhman ST MT, Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan beberapa faktor yang dapat menyebabkan kendaraan mati mendadak di rel kereta. Pada acara Media Lounge Discussion yang berlangsung di Gedung BRIN BJ Habibie, Jakarta Pusat, pada Rabu (13/5/2026), Eka menyatakan, "Kalau melihat data yang ada, itu ada tiga macam penyebab."

Penyebab Pertama: Panic Stall

Eka menjelaskan bahwa penyebab pertama kendaraan mati mendadak di rel adalah panic stall. Kejadian ini biasanya terjadi ketika pengemudi panik dan salah menginjak pedal gas. "Kondisi mobil kita mati tengah jalan karena mungkin injak gasnya nggak benar. Mati, mau menghidupkan lagi, kereta dari sana, dia gugup gitu. Jadi antara kunci di-start sama injak gas itu nggak sinkron sehingga nggak hidup-hidup," ungkap Eka. Dalam situasi seperti ini, ia menyarankan agar pengemudi memasukkan gigi 1 atau 2 dan kemudian mencoba menyalakan mesin jika mobil tersebut menggunakan transmisi manual.

Penyebab Kedua: Goncangan Rel

Penyebab kedua yang diidentifikasi oleh Eka adalah goncangan rel. Guncangan yang dihasilkan oleh kendaraan besar atau kereta itu sendiri dapat membuat rel menjadi tidak rata. "Rel itu nggak rata. Mobil kadang-kadang nyeberang, kita nggak tahu kondisi perkabelan di mobil itu kurang kencang. Waktu melewati jalan tidak rata itu," jelasnya.

Penyebab Ketiga: Anomali

Penyebab terakhir yang disebutkan adalah anomali, di mana mobil mengalami masalah meskipun telah melalui proses quality control (QC). "Jadi, meskipun mobil itu sudah lolos QC, tapi begitu pas kejadian itu takdirnya di situ. Itu anomali," kata Eka.

Selain itu, ada juga pembahasan di kalangan masyarakat mengenai efek impedance atau gelombang elektromagnetik yang dianggap sebagai penyebab kendaraan mati. Namun, Eka menegaskan bahwa isu tersebut tidak benar. Ia menjelaskan bahwa gelombang elektromagnetik tidak ada di rel kereta. "Nah, sikap kita sebagai awam gimana? Pertama, stop. Stop menghentikan hoaks terkait efek impedance atau gelombang elektromagnetik sebagai penyebab mobil mati di perlintasan," tegasnya.

Eka menambahkan bahwa penelitian yang dilakukan oleh BRIN menunjukkan bahwa tidak ada medan magnet yang signifikan di perlintasan kereta. "Makanya semua yang kita lakukan termasuk orang lain yang melakukan pengujian itu tidak menunjukkan bahwa di rel itu ada medan magnet yang besar sekali," ujarnya.

Dalam konteks jalur KRL, terdapat kabel dengan tegangan tinggi 1500 Volt yang terhubung ke tanah, sehingga tidak mungkin ada medan magnet yang keluar dari rel. "Biasanya jalur untuk KRL. Kalau KRL kan di atasnya ada yang kabel itu, itu tegangan tinggi 1500 Pol. Nah minusnya di mana? Di rel itu. Makanya di rel itu disambung ke tanah. Kalau disambung ke tanah, nggak mungkin dia keluar medan," tambahnya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait